Abdul Kadir
Dari AcehPedia
Abdul Kadir dikenal sebagai penyair dengan nama To’et. Nama To’et melekat padanya karena sebuah syair yang didendangkannya berjudul "Ret Ret Tum". Dia adalah seorang penyair yang gigih dalam mempertahankan seni Tradisional Gayo: "Didong"—seni berdendang mendengarkan syair-syair tentang alam sekitar.
Alam Gayo yang indah bagaikan sebuah puisi telah membentuk jiwa seni To’et sejak kecil. Suaranya yang merdu serta penampilannya yang khas terutama pada gerak bahu, membuat To,et terkenal sejak usia muda dengan gelar "ceh kucak" (ceh kecil). Dalam perkembangan karirnya sebagai seniman didong, To’et bersama teman-temannya mendirikan grup seni didong dengan nama "Siner Pagi", di desa Gelelungi.
Dalam penciptaan karya-karyanya To’et banyak mengambil tema tentang alam. Perjalanan karir To’et sebagai seniman didong tambah bervariasi ketika bertemu pendendang wanita yang bernama Hidayah seorang qariah, yang dapat mengikuti dan membawakan syair-syair To’et dengan baik. Pertemuan To’et dengan Hidayah dan beberapa pendendang lainnya menambah kreatifitas grup To’et. Sejumlah syair mulai didendangkan dan ditambah gerak tubuh lainnya. Sehingga dapat dilihat banyak gerak pada sejumlah puisi tertentu dibanding syair didong lazimnya.
Ceh ''''To’et telah sempat tampil membawakan puisi-puisinya disejumlah kota besar di Indonesia seperti; Banda Aceh, Medan, Padang, Palembang, Jakarta, Yogyakarta, Bandung dan lain-lain. Penyair Indonesia seperti Rendra, Taufiq Ismail, Arifin C. Noor, Teguh Karya, dan Putu Widjaja, menilai karya-karya To’et merupakan sesuatu yang orisional, khas seni To’et. Ia telah tampil dengan akar tradisi Gayo yakni didong Gayo.
Dia berpendapat bahwa bidang kesusastraan merupakan pilihan hidupnya yang paling tepat. Hal itu sesuai dengan bakatnya yang sudah terbentuk sejak dini. Baginya berseni bagaikan darah yang mengalir kesetiap organ tubuh dan tidak mungkin dapat dipisahkan dari kehidupannya. Mulai mencipta lagu, syair sejak 1939, setelah itu mengalirlah karya-karyanya yang lain. Dia memang hidup dari berseni, terutama seni tradisional didong, tetapi hal ini tidak menghalanginya untuk beribadah. Sebagai seorang muslim yang taat, dia menyadari hidup di dunia ini hanya sementara, oleh karena itu sebagian besar pemasukannya diserahkan untuk dana pembangunan mesjid, sekolah, jembatan, dan kepentingan umum lainnya tanpa pernah diucapkan dan diberitakan oleh media massa cetak apalagi elektronik. Dia dengan segala kesederhanaannya mempunyai prinsip "lebih baik tangan di atas dari pada tangan di bawah".
RENGGALI
wahai renggali
yang harum harum harum mewangi
renggali ini si tajuk hias
ini lagu baru dekat tengah malam
wahai renggali
yang harum harum harum mewangi
ceh sekarang semakin banyak
tetapi lagunya banyak tak mengena
yang membeli kenderaan semakin banyak
tetapi minyaknya semakin menyala
wahai renggali
| yang harum harum harum mewangi |
renggali ini si tajuk hias
ini laguku bukan harta pinjam
benih sawah semakin banyak
tapi zakatnya semakin berkurang
(Terjemahan dari bahasa Gayo oleh L.K.Ara)
