Abu Kasim
Dari AcehPedia
Abu Kasim dilahirkan di Takengon, dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, tahun 1944. Mulai berkarya dalam dunia sastra sejak usia muda. Salah satu karyanya yang sangat popular berjudul Ampung-Ampung Pulo. Karya ini diciptakan ketika ia tamat SMP di Takengon, Aceh Tengah. Saat itu, ia akan pergi meneruskan sekolah ke Banda Aceh melanjutkan ke SMA. Perpisahan dengan sahabat dan tanah kelahiran menumbuhkan inspirasi Abu Kasim dengan menciptakan baris-baris puisi yang melankolis. Selain itu, Abu Kasim juga menaruh perhatian terhadap cerita rakyat. Banyak puisi-puisinya bersumber dari legenda rakyat Gayo, seperti Genali, Merek Suro, dan Inen Mayak Teri. Ia juga pencipta puisi balada yang mengambil tema cerita rakyat Gayo. Karya puisi baladanya yang terkenal antara lain, Batu Belah, Mpu Beru, Puteri pukes, dan Puteri Hijau. Setelah menamatkan pendidikan di Banda Aceh, ia pulang ke kampung halamannya Takengon dan bertugas sebagai guru. Kemudian ia pindah ke Jakarta dengan menjadi karyawan di Direktorat Kesenian. Kesenian tradisi didong yang telah dikenalnya sejak dari kecil di kampung halamannya Takengon, di Jakarta pun ia kembangkan lewat pertunjukan di Taman Ismail Marzuki, Pasar Seni, Ancol, dan lain-lain. Sejumlah karya Abu Kasim dimuat di dalam berbagai penerbitan. Sedangkan antologi puisi tunggalnya berjudul Amruna memuat 30 puisi dalam bahasa Gayo dan Indonesia di terbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, tahun 1982.
AMPUNG-AMPUNG PULO
Selamat manut ampung-ampung pulo
Selalumi mulo ku laut kuala
Salam selamat di enti lupen kao
Ku sawini imo urum ceding selada
(Selamat hanyut kau kiambang
Silakan lewat ke laut kuala
Salam selamat jangan kau lupa
Kepada sawi imo dengan tunas selada)
Taringmi taring ko lumut ni atu
Si ngih mungkin mudemu ne selama masa
Asal nge beta bang ningko nasipmu
Taring cacar layu urum budi bahasa
(Tinggallah tinggal kau lumut di batu
Yang tak mungkin bertemu selamat hayat
Mungkin sudah demikian untung nasibmu
Tinggallah cacar layu dengan budi bahasa)
Enti pubebalik manutmi ampung-ampung
Puren aku mununung ke umurku ara
Mudemumi kase kite sara linung
Iwan sara keltung mien kite musara
(Jangan berbalik hanyutlah kiambang
Kelak aku kan menyusul bila umurku ada
Semoga kita bertemu di satu tempat
Di satu lubuk kita kembali berjumpa)
Nun disana Laut Tawar airnya tenang
Di hempas gelombang ke tepi mengalun
Anggun terpancang Bukit Birah Panyang
Dengan Pereben berdampinan bagai bermufakat
Dari Singgah Mata coba layangkan pandang
Nosar, Rawe awan berarak
Jelas sekali nampak disana Ujung Kalang
Sampi ke Bintang tusam beriring
