Daud Kala Empan

Dari AcehPedia

Langsung ke: navigasi, cari
Daud Kala Empan
Daud Kala Empan

Namanya Daud Kala Empan, umurnya hamper setengah abad, tepatnya 47 tahun. Melihat penampilannya yang rapi, rambut sedikit gondrong namun tersisir rapi baju batik dipadu kemeja dengan terusan celana bahan serta sepatu mengkilat membuatnya tampak eleggan dan parlente. Seolah menyembunyikan gudang derita yang pernah dirasakannya sebagai seniman. Kisahnya bak dongeng atau fiksi, namun tidak untuk wilayah Aceh saat konflik terjadi , semuanya adalah kisah sejati.

Namun siapa yang duga, kalau Daud Kala Empan pernah merasakan getirnya hidup demi menghidupi anak istri ditambah konflik berkepanjangan Aceh yang membuatnya harus ikut eksodus dari tanah kelahirannya.

Bukan itu saja, saat konflik bergolak, Daud bersama tiga anak dan istrinya pernah merasakan hidup di hutan belantara selama sepuluh hari dengan hanya mengkonsumsi Janing, sejenis Lumu yang harus diolah dahulu baru bisa dikonsumsi karena beracun. Semuanya dilakukan demi menyelamatkan nyawa dari ganasnya konflik bersenjata yang pernah terjadi di depan matanya.

Selama di hutan, Daud mengaku harus tidur berpindah-pindah dari satu rumpun kayu ke rumpun kayu berikutnya. Guna menghangatkan diri dari dinginnya belantara , Daud harus menyiapkan api unggun di tempat yang dianggap aman dan tidak terlihat dari kejauhan.

Setelah melihat kondisi anak-anaknya semakin melemah setelah sepuluh hari hanya mengkonsumsi janing, Daud mencoba turun gunung dan berharap konflik sudah berlalu. Benar memang, di tempat Daud turun dari belantara di daerah hutan Teran Kampung Rusip yang berbatasan dengan daerah Samarkilang, Daud dan keluarganya melihat sudah ada palang merah. Kisah perihnya konplik berakhir, namun Daud harus memulai hidup baru di tempatnya eksodus, Takengon.

"Semua kenangan itu saya jadikan lirik didong berdasarkan kenyataan yang saya alami", ujar Daud seolah mengenang kisah hidupnya kepada Koran ini di sekretariat Asosiasi Seniman Gayo, Senin (19/3).

Dijelaskan Daud Kala Empan, karirnya sebagai seniman dimulai sejak tahun 1970. Selama kurun waktu tersebut sudah puluhan hasil karyanya tercipta terutama untuk lirik didong.

"Namun hanya 47 buah lagu yang hingga saat ini yang berhasil diselamatkan tersimpan dalam arsip buku tempat saya mengekspresikan semua karangan lagu didong saya", tutur Daud yang selalu tampak semangat.

Menurut Daud,profesi sebagai seniman hingga saat ini belum dapat dij adi kan sandaran hidup sebagai sumber perekonomian. Menyadari hal itu, Daud mencoba berbagai usaha, seperti menjadi seorang teknisi yang mereparasi radio dan tape.

Bosan dengan usaha reparasi, Daud mencoba peruntungannya menjadi petani kopi seperti kebanyakan warga yang tinggal di daerahnya Kala Nempan Kecamatan Syiah Utama Kabupaten Bener Meriah.

Setelah kebunnya menghasilkan panen kopi, Daud harus mengalah kepada konflik dan membuatnya harus hijrah ke daerah yang aman. Pun begitu, dijelaskan Daud, hidup di daerah baru seputaran Jalan Lintang Takengon, Daud mengandalkan keahliannya sebagai seniman didong menjadi andalan ekonominya.

Menurut LK Ara, ketua Asosiasi Seniman Gayo, karya Daud Kala Empan, Mayang Serungke pernah ditampilkan di Teater Utan Kayu Jakarta pimpinan Goenawan Moehammad yang dibawakan oleh LK Ara dalam bentuk puisi serta di Ancol .

Kini Daud kala Empan telah bergabung dengan Asosiasi Seniman Gayo. Dengan Asosiasi ini, Daud berharap banyak. Karena sudah menj adi takdirnya sebagai seniman yang tidak bisa ditinggalkannya. Dari sana pula Daud berharap ada Asa yang lebih baik.

Sebagai seniman, Daud juga menguasai berbagai alat musik seperti gitar dan suling. Saat melantunkan pepongoten (kisah sedih) tentang kisah orang yang dimakan harimau sembari meniupkan sulingnya, Daud berhasil menciptakan suasana haru biru antara bunyi sendu suling yang ditingkahi suara khas ceh didong yang mendayu dengan cengkok yang khas dan irama teratur. Daud benar-benar mengandalkan jiwa seninya untuk hidup meski belum dihargai senikmat hasil karyanya.

Namun Daud mengaku pasrah dan berharap pada hari esok yang lebih baik seiring perubahan Aceh baru saat ini. Semoga seniman dihargai sama dengan profesi lain. Bukan hanya dibutuhkan pada acara seremonial dan menyambut tamu saja. Tapi ditempatkan dan dihargai secara layak. Karena tanpa seni, hidup menj adi demikian kaku dan tanpa rasa", kata Daud berfilsafat.

Kini Daud dengan grup didongnya Kelana tetap eksis menekuni didong setelah dua grupnya sebelumnya Dirwina dan Biak Cacak bubar karena berbagai alasan. Sementara Banisah, istri Daud Kala Empan membina grup didong perempuan, Rembune.

Sumber

Navigasi
Kategori Utama
AcehPedia
Komunitas Lokal
Kotak peralatan