Halaman Utama

Dari AcehPedia

Langsung ke: navigasi, cari


Selamat datang di Acehpedia
Sebuah ensiklopedia daring tentang Aceh yang boleh ditulis dan sunting oleh siapa saja.
Kini, kami mempunyai 1.085 artikel.
AcehPedia


Budaya
Budaya
Sejarah
Sejarah
Lingkungan
Lingkungan
Pemerintahan
Pemerintahan
Tokoh
Tokoh

Artikel Pilihan

Gayo adalah nama suku asli yang mendiami daerah ini. Mayoritas masyarakat Gayo berprofesi sebagai Petani Kopi. Varietas Arabika mendominasi jenis kopi yang dikembangkan oleh para petani Kopi Gayo. Produksi Kopi Arabika yang dihasilkan dari Tanah Gayo merupakan yang terbesar di Asia Kopi Gayo (Gayo Coffee) merupakan salah satu komoditi unggulan yang berasal dari Dataran Tinggi Gayo. Perkebunan Kopi yang telah dikembangkan sejak tahun 1908 ini tumbuh subur di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. Kedua daerah yang berada di ketinggian 1200 m dpl tersebut memiliki perkebunan kopi terluas di Indonesia yaitu dengan luasan sekitar 81.000 hektar. Masing-masing 42.000 ha berada di Kabupaten Bener Meriah dan selebihnya 39.000 ha di Kabupaten Aceh Tengah.

Kopi yang saat ini sudah dikenal luas sebagai minuman dengan cita rasa khas dan dipercaya mempunyai manfaat besar bagi peminumnya, telah dikenal sejak abad-abad sebelum Masehi. Menurut sumber tertulis kopi berasal dari daerah jazirah Arab. Keterkaitan dunia Arab dengan kopi juga dibuktikan dengan adanya kenyataan bahwa istilah “kopi” berasal dari bahasa Arab, quahweh. Dari dunia Arab, istilah tadi diadopsi oleh negara-negara lainnya melalui perubahan lafal menjadi cafe (Perancis), caffe (Italia), kaffe (Jerman), koffie (Belanda), coffee (Inggris), dan coffea (Latin). Namun diantara pakar masih belum ada persesuaian pendapat tentang daerah asal kopi. Berbagai daerah telah diindentifikasikan sebagai daerah dan habitat asal tanaman kopi oleh pakar dari berbagai keahlian. Selengkapnya...


Foto/Video Pilihan

Prajurit KNIL (Tentara Kerajaan Hindia-Belanda) di Gunungan, Kutaraja (Banda Aceh), tahun 1874
Prajurit KNIL (Tentara Kerajaan Hindia-Belanda) di Gunungan, Kutaraja (Banda Aceh), tahun 1874

Lingkungan

  • Krueng Aceh merupakan salah satu sungai yang terletak di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Sungai ini berhulu di Cot Seukek Kabupaten Aceh Besar dan bermuara di desa Lampulo Kota Banda Aceh. selengkapnya...
  • Status Gunung Seulawah Agam di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) telah ditingkatkan ke level 2 atau waspada. Menyusul peningkatan status ini, masyarakat di sekitar kawasan gunung dilarang mendekat dalam radius 3 km dari bibit kawah aktif. Selengkapnya
  • Sebanyak empat desa di Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara, dikhawatirkan terimbas limbah air raksa (merkuri) pada bekas sumur di kawasan eks ladang ExxonMobil. Masyarakat di seputar itu dilarang mendekat, bahkan polisi sudah memasang garis polisi (police line) di lokasi tersebut. Adapun empat desa yang dikhawatirkan bakal terimbas air raksa itu masing-masing Desa Hueng, Deeng, Keutapang, dan Desa Drien. Selengkapnya

Tokoh Pilihan

Sultanah Zinatuddin Kamalat Syah
Sultanah Zinatuddin Kamalat Syah
Setelah mangkatnya Sultanah Nurul Alam Zakiatuddin pada tahun 1688, terjadi perselisihan pendapat antara lembaga panglima tiga sagi dan Majelis Orang Kaya tentang keabsahan wanita menjadi sultanah. Isu ini sebenarnya telah diselesaikan dengan fatwa Syeikh Abdur Rauf Singkel pada zaman Sultanah Tajul Alam Safiatuddin tetapi dimunculkan kembali oleh pihak yang tidak setuju dengan diangkatnya Zinatuddin menjadi Sultanah.

Majelis Orang Kaya tidak setuju dengan rencana diangkatnya Zinatuddin sebagai Sultanah. Walaupun demikian, pada akhirnya ia tetap dilantik menjadi sultanah karena kekuasaan untuk mengangkat seseorang menjadi sultanah ada di tangan Lembaga Panglima Tiga Sagi dan kebetulan lembaga ini mendukungnya karena Zinatuddin masih adik Sultanah Zakiatuddin dan diangkat ia dianugerahi gelar Sultanah Zinatuddin Kamalat Syah. Alasan Majelis Orang Kaya tidak setuju dengan diangkatnya Zinatuddin adalah: pertama karena menurut mereka Islam melarang perempuan menjadi pemimpin. Di antara hadis yang menjadi pegangan mereka adalah : Khasira qaumun allazina wallau umuurahum imraatan (al-hadis). Artinya :

Rugilah suatu kaum yang menyerahkan urusan publiknya kepada perempuan.

Seperti dijelaskan dalam hadis dan kedua berdasarkan fakta setelah dipimpin oleh tiga orang sultanah berturut-turut Aceh ternyata tidak bertambah jaya namun sebaliknya semakin mundur terbukti dengan banyaknya daerah bawahan yang melepaskan diri. selengkapnya...




AcehPedia merupakan proyek pembangunan sebuah database (basis data) yang komprehensif sebagai rujukan yang reliable and credible tentang Aceh dalam bentuk ensiklopedia online. Proyek ini dibangun dengan dukungan dana dan materiil lainnya dari lembaga Ford Foundation, SGP Indonesia, Pemprov. NAD, AITD, AirPutih Palapa dan Aceh Blogger Community.

AcehPedia berisi koleksi arsip sejarah maupun kontemporer terlengkap baik berupa dokumen tekstual maupun foto yang dikemas dalam 5 (lima) kategori utama. AcehPedia diharapkan akan menjadi sarana yang efektif dalam upaya mempromosikan Aceh beserta kekayaan khazanah kebudayaannya ke seluruh dunia, dan membuka sekat-sekat informasi yang selama ini mengisolasi Aceh.


Navigasi
Kategori Utama
AcehPedia
Komunitas Lokal
Kotak peralatan
Share Tools