Harun Al-Rasyid
Dari AcehPedia
Harun Al-rasyid adalah nama samaran Muhammad Harun Al Rasyid. Dia mulai gemar menulis puisi sejak sekolah menengah. Harun boleh dikatakan pengarang yang serba bisa. Selain menulis puisi, dia juga seorang penulis esai, kritik sastra, feature, resensi buku, opini, dan cerpen yang handal. Karya-karya telah dimuat di media lokal maupun nasional. Puisi-puisinya antara lain telah dibukukan dalam antologi Kemah Seniman Aceh III (1990), Banda Aceh (1991), Nafas Tanah Rencong (1992), Lambaian (1993), Seulawah (1995), Keranda-keranda (1999), dan Putroe Phang (2002). Kumpulan puisi pertamanya adalah Suara Pribumi (BP Swadaya Mandiri, Jambi 1996). Sedangkan karyanya dalam bentuk cerpen antara lain dibukukan dalam antologi Remuk (2000). C. Harun Al-Rasyid atau Muhammad Harun Al Rasyid lahir di Laweueng, kabupaten Pidie, 5 Maret 1966.
Alumni mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah FKIP Unsyiah ini terhitung sejak tahun 1993 diangkat sebagai staf pengajar di almamaternya. Pada tahun 1990—1994 terjun menggeluti dunia jurnalistik dengan bekerja sebagai wartawan Harian Serambi Indonesia Banda aceh. Semasa kuliah Harun aktif di pers kampus dan mengikuti seminar lokal dan nasional ini, awal tahun 1998 telah menyelesaikan studi magisternya di IKIP Malang. Aktifitas Harun didunia sastra dan seni dibuktikanya dengan bergabung di Dewan Kesenian Banda Aceh (DKB) sebagai wakil sekretaris sampai tahun 1999. Setahun kemudian duduk sebagai wakil ketua I Dewan Kesenian Aceh (DKA). Namun, Agustus 2001 mengundurkan diri kerena melanjutkan studi program doktor di Universitas Negeri Malang. Tahun 1999, Harun mengikuti forum Dialog Utara VIII di Thailand Selatan dengan membawa makalah berjudul: Integrasi Bahasa Melayu dalam Bahasa Aceh. Di samping itu dia juga dipercaya untuk mengeditori beberapa buku sastra, antara lain; Apit Awe (1993), Keranda-Keranda (1999), dan Remuk (2000). Sajak-sajaknya terangkum dalam L.K. Ara dkk (ed.) Seulawah: Antologi Sastra Aceh Sekilas Pintas (1995).
Karya Sastra
Kupanggil Namamu, Muhammad
Kupanggil namamu, Muhammad
Penjaja demokrasi, tanpa tongkat bara
Pewaris tahta belas kasih
Muhammad! Muhammad! rindu para budak
Mendekap sapuan cintamu, o
Rindu pada dhuafa menunggu perahu
Rindu para muallaf bergayut di hatimu
Kupanggil namamu, Muhammad
Muhammad di siang, Muhammad di malam
Pengembara ingin sinar bulanmu
Menyinari jalan berliku
Wahai, seperti aku yang tersesat
Di antara bukit-bukit cinta, dan
Gebalau iman di samudera Allah
Muhammad! Muhammad! o pemahat
Lukisan kejujuran. Pendiri rumah-rumah
Keabadian, kemerdekaan tanpa pamrih
Musafir menyebutmu, moralis sejati
Dan para wanita menggantungkan namamu
Pada masing-masing lehernya
Muhammad kupanggil namamu mawar yang al amin
Berakar di hati, merimbun di jasad
Tempat para semut bermain cinta
Laksana swargaloka bertatah yakut
Kupanggil namamu, Muhammad
Tegar memegang panah Allah
Membidik musuh-musuh harbi-zindik
Yang menyatronimu dengan wajah benci dan dengki
Bertemu terluka, prajurit terluka
Allahu Akbar, Allahu Akbar
Aku terjaga, memanggil namamu
Kupanggil namamu, Muhammad
Yuris yang patuh para yurisprudensi-Nya
Al aminlah diriku, laksana santunmu
Dekat Zat-Nya, menghirup wangi surgawi
Sigli, Juli 1993
