Herman RN

Dari AcehPedia

Langsung ke: navigasi, cari

Herman RN adalah alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID) FKIP Universitas Syiah Kuala (Unsyiah). Pria kelahiran Ujung Pasir, sebuah desa terpencil di Kluet Selatan, kabupaten Aceh Selatan, 20 April 1983 sejak kecil sudah suka dunia menulis.

Hampir setiap dongeng yang didengarnya dari neneknya, ia tuliskan kembali di buku sekolahnya. Saat kecil, dia juga suka membaca. Setiap membaca karya sastra, sering timbul hasrat di hatinya untuk menjadi penulis buku.

Dia telah berkecimpung dalam dunia tulis-menulis saat di bangku kuliah, tepatnya setelah tsunami melanda Aceh, 26 Desember 2004. Untuk memperdalam tulisannya, dia bergabung bersama Komunitas Tikar Pandan dalam program Sekolah Menulis "Dokarim". Sebulan mengikuti sekolah menulis Dokarim, Herman mencoba mengirimkan karyanya ke harian lokal. Ketika itu, cerpen perdananya "Prahara di Musim Depik" dimuat harian Aceh Kita. Pada bulan ke dua mengikuti sekolah menulis, opininya "Dalam Bincang Budaya (Kesenian) Aceh" dimuat pula di Serambi Indonesia. Sejak saat itu, esai dan opini lelaki kurus berkulit sawo matang ini mulai mewarnai media surat kabar di Aceh.

Meskipun masih di bangku belajar Sekolah Dokarim, Herman mencoba mengikuti lomba cipta cerpen pemuda tingkat nasional yang diadakan oleh CWI dan Deputi Kementerian Pemuda dan Olahraga RI tahun 2005. Ternyata hasilnya di luar dugaan. Dia berhasil memboyong piagam penghargaan sebagai juara III sekaligus diundang dalam workshop menulis kreatif di Jakarta. Cerpennya tersebut berjudul "Abu Nipah" yang dibukukan dalam La Runduma (CWI 2005). Kemudian, pada awal 2006, naskah cerita anaknya memperolah juara III se-Aceh.

Serasa kurang puas dengan dunia tulis menulis, lelaki ini mencoba merambah ke sastra. Dia bergabung dalam kesenian tutur PMTOH Aceh Modern, sebuah kelompok tutur kata hikayat yang digagas oleh Komunitas Tikar Pandan. Selama menjadi tukang cerita PMTOH, Herman sudah beberapa kali memainkan hikayat yang dikarangnya secara spontan di berbagai even. Bersama kelompok "Penutur Tujuh TV Eng Ong", dia mengunjungi barak-barak pengungsian Banda Aceh dan Aceh Besar memainkan cerita Kota Mahilaropyam (2005). Kemudian, pada Maret-April 2006 membawa hikayat perdamaian keliling Aceh bersama Agus Nur Amal, Muda Balia, Apa Kaoy, Udin Pelor, Dedi Besi, dan Todhax.

Dua tahun baru bergelut di dunia sastra, Herman telah menghasilkan beberapa karya, baik yang dipublikasikan media cetak (koran/majalah) maupun dalam antologi bersama. Di antaranya, essai "Kampung dalam Goa" (2006). Karya-karya lain terkumpul dalam Sepuluh Cermin Merah (essai, 2007)), Kitab Mimpi (Puisi, 2007), Geulanggang Radio (Naskah Drama Radio, 2007), Meusyen (Cerpen, 2007). Buku yang ditulisnya sendiri adalah sebuah cerita anak "Indahnya Nikmat Tuhan" (Lapena, 2006). Karya-karyanya juga dimuat di Republika Serambi Indonesia, Harian Aceh, Harian Analisa, Koran Aceh Kita, Rakyat Aceh, Majalah Aceh Magazine, Majalah Gong, Tablodi Kontras, bulletin kampus--Detak Unsyiah dan Cakra.

Selain itu, beberapa prestasi yang diperolehnya di antaranya juara I lomba baca puisi tingkat mahasiswa yang diadakan oleh LDK Al-Mudarris FKIP Unsyiah, juara II baca puisi Pekan Seni Mahasiswa Indonesia (Peksimi) tingkat Unsyiah (2004), harapan I menulis cerita rakyat tingkat nasional oleh Pusat Bahasa Jakarta (2006), juara I menulis cerita rakyat se-Aceh versi Dinas Kebudayaan Aceh (2006). Selanjutnya, pada tahun 2008, Herman kembali mengikuti lomba menulis cerita rakyat tingkat nasional yang diadakan oleh Pusat Bahasa Jakarta. Karyanya, "Putri Babi" mendapat juara III.

Saat ini, Herman tercatat sebagai editor berita (redaktur) di Harian Aceh. Dia juga dipercayakan menjadi pengelola media adat "tuhoe"- sebuah buletin yang diterbitkan oleh Jaringan Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) Aceh. Selama bergabung di JKMA Aceh (2007), dia juga dipercayakan menjadi editor buku Umar Emtas, "Peradaban Aceh (Tamdun) II".

Di samping itu, editor buku "Anti-Tokoh" (Aneuekmulieng Publishing, 2007) ini juga pernah dipercayakan menjadi fasilitator dan pemateri di beberapa kegiatan sastra dan kepenulisan. Di antaranya, fasilitator pelatihan menulis untuk umum di Suramoe Teumuleh—program Katahati Institute (2007), pemateri tamu di sekolah menulis Dokarim untuk angkatan 2007, pemateri/fasilitator dalam kegiatan Sanggar Sastra untuk siswa dan guru Bahasa Indonesia yang diadakan oleh Balai Bahasa Banda Aceh (2007).

Dalam dunia akting, Herman bergiat di Teater Nol dan Gelanggang Mahasiswa Sastra Indonesia (Gemasastrin) Unsyiah. Beberapa kali sudah melakukan pementasan teater dan pada tahun 2004 ikut serta dalam Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) VII di Lampung. Dia juga pernah main sinetron Dalam Dekapan-Mu (TPI, 2005) dan iklan layanan masyarakat di TVRI Aceh. Juga tampil menjadi pembicara tentang "Seni Tutur dan Cerita Rakyat" di Aceh Tivi (2008).

Navigasi
Kategori Utama
AcehPedia
Komunitas Lokal
Kotak peralatan