Pendidikan
Dari AcehPedia
== MASYARAKAT DAN PENDIDIKAN ==
PAULO FREIRE
Sudah menjadi pengetatuan kita bersama bahwa pendidikan yang humanis itu memberikan kebebesan yang luas untuk memikir kritis ,dan semakin banyak di lontarkan kritik maka kelompok yang dominant akan semakin memperketat penjagaan terhadap keamanan dirinya.dengan demikian , setiap mistifikasi jelas cenderung menjadi totaliter dalam arti mereka memberangus semua orang yang bersikap kritis.semuanya di berangus tanpa kecuali ,karna setiap perkecualian mempunyai kemungkinan menjadi ancaman bagi kesucian social yang sudah terbangun rapi. Dengan demikian,sekolah memainkan peranan yang sangat vital sebagai alat control social yang efisien untuk menjaga status quo ini. Maka sangat mudah menenmukan guru yang berpandangan bahwa pendidikan adalah proses adaptasi siswa denagn lingkungannya ,dan sudah semestinya pendisikan formal tidak boleh bertindak diluar ini.
Di dalam pendidikan yang seperti ini, siswa yang baik bukanlah yang selalu resah atau keras kepala dan Bengal, atau yang menampakkan keraguannyaatau ingin mengetahui alas an di balik fakta, atau yang mencela birokrasi yang kurang baik, atau yang selalu menolak dijadikan objek pendidikan ; namun siswa dikatakan baik bila dia penurut, meninggalkan cara berpikir kritis, mematuhi aturan yang sudah ada, dan beranggapan bahwa menjadi seekor ‘binatang’itu baik.
Sebaliknya, guru yang memposisikan dirinya sebagai ‘dewa’, sesuci lembaga sekolah itu sendiri, sering kelihatan sebagai seorang yang tak tersentuh, baik keilmuan maupun fisiknya. Siswa bahkan tidak boleh menempelkan tangan nya di pundak sang guru sebagai ujud rasa sayang. Keintiman yang kaku dan dingin ini akan menimbulkan jarak antara guru dan murit – intinya siswa tidak boleh melakukan apa-apa kecuali menerima apapun yang di sampaikan oleh guru secara ideologis untuk kepentingan struktur yang suci itu.
Apa yang kau pelajari di sekolah hari ini, anakku?
Apa yang kau pelajari di sekolah hari ini, anakku?
Aku diajari bahwa Washington tidak pernah berdusta,
Aku dipelajari bahwa tentara itu tidak gampang mati,
Aku diajari bahwa setiap orang punya kebebasan,
Begitu yang diajarkan guruku.
Itulah yang kupelajari disekolah hari ini.
Aku diajari bahwa keadilan tidak akan pernah mati,
Aku diajari bahwa pembunuh itu mati karena kejahatannya sendiri,
Meski kadang kita juga membuat kesalahan.
Aku diajari bahwa pemerintah harus kuat,
Pemerintah selalu menang dan tidak pernah salah,
Pemimpin kita adalah orang yang paling bijak,
Dan lagi-lagi kita akan memilih mereka.
Aku diajari bahwa perang itu tidak begitu buruk
Aku diajari bahwa ada sebuah perang besar yang pernah terjadi,
Kita dulu pernah berperang melawan belanda dan jepang
Dan mungkin suatu saat aku akan berperang.
Itulah yang kupelajari disekolah hari ini
Itulah yang aku pelajari di sekolah
Dan jika pertanyaan ini diajukan kepada Mahasiswa, ternyata jawaban mereka tidak jauh beda dengan jawaban sianak kecil dalam lagu Tom Paxton
Saat ini di perguruan tinggi kami belajar bahwa objektivitas dalam sains membutuhkan netralitas sang Ilmuwan; ,kami belajar bahwa ilmu pengetahuan adalah murni, universal, dan bebas nilai serta bahwa perguruan tinggi adalah wadah ilmu pengetahuan. Saat ini kami belajar, walau tidak kamio ungkapkan, bahwa dunia terbagi atas orang yang tahu dan yang tidak tahu ( yaitu para pekerja kasar ), dan perguruan tinggj rumah bagi kelompok pertama.
Kami sekarang belajar bahwa realitas adalah bersifat given, bahwa kejujuran dan dengan netralitas ilmiah kami dapat menjelaskan sebuah realitas sebagaimana adanya.Dan karena kami sudah menjelaskannya sebagai mana adanya, maka kami tidak perlu menyelidiki alasan alasan prinsipil di balik realitas itu. Tetapi jika kami menjelaskan realitas dengan memberikan altenatif cara hidup yang baru, berarti kami bukan lagi ilmuan, namun ideology yang belajar di peguruan tinggi.
Kami sekarang belajar bahwa pembanggunan ekonomi semata-mata merupakan permasalahan teknis, bahwa orang-orang yang terbelakang selalu tidak mempunyai kemampuan (kadang karma alasan keturunan, kondisi alam, atau iklimnya) .Kami di ajari bahwa jumlah orang berkulit hitam yang belajar lebih sedikit di bandingkan orang yang berkulit putih, karma orang yang berkulit hitam memang secara genratis adalah orang lemah (inferior), bahkan ketika mereka menunjukkan kemampuan alamiahnya, seperti menari, ketrampilan tertentu, dan makanya mereka menjadi buruh kasar selamanya.
Apakah dengan menggunakan sekolah atau tidak, yang tidak bias disangkal lagi bahwa seluruh proses mistifikasi ini pada akhirnya penghalang untuk mengaktualisasikan kekritisan berpikir manusia, dan hanya melenggangkan status quo. Mistifikasi ini menunjukan kepada kita terjadinya kontradisi antara bentuk aksi pilihan hidup kebanyakan orang.
Banyak orang membicarakan kepentingan umat manusia, namun hanya menjadi ungkapan kosong, karena mereka tidak mengerti bahwa kenyataan dimensi humanis hanya dijadikan objek penderita. Banyak orang mengklaim dirinya punya komitmen dalam usaha pembebasan, tetapi mereka masih menganut mitos yang menentang tindakan-tindakan yang humanis. Banyak dosen yang melakukan analis bagaimana sampai terjadi penindasan social ini, namun mereka terus-menerus menahan mahasiswanya dengan cara-cara represif. Banyak orang mengklaim sebagai kaum revolusioner, tetapi mereka tidak mempercayai kaum tertindas yang pura-pura mereka bebaskan, seolah-olah ini bukan sebuah kontradiksi yang salah. Banyak orang yang mengiginkan pendidikan yang humanis ini. Singkatnya, mereka takut kalau proses pembebasan itu terjadi. dan dengan ketakutan itu, mereka menjalin persaudaraan, yang sesungguhnya untuk mencabut kebebasan orang banyak.
