Perang Aceh 2

Dari AcehPedia

Langsung ke: navigasi, cari

Kelanjutan dari Perang Aceh 1

Daftar isi

Pengkhianatan dari Singapura

Perang Aceh pertama tidak lepas dari anggapan Belanda bahwa Aceh telah mengkhianati Perjanjian Dagang, Perdamaian dan Persahabatan. Elemen penting dalam pengkhianatan itu tidak lain dan tidak bukan adalah seorang Teuku Muhammad Arifin. Tidak banyak sumber sejarah menceritakan tentang dirinya, namun petualangannya di beberapa daerah seperti Bengkulu, Tanjung Pinang dan berbagai daerah di Malaka cukup membuat Belanda takut dan menganggap pernyataannya bahwa Aceh tengan mengadakan hubungan diplomatik dengan Amerika dan Eropa sebagai sebuah pengkhianatan Aceh terhadap Belanda. Hubungannya dengan Raja Trenggano (abang ipar) mendekatkan nya dengan William Read, seorang konsulat Belanda di Singapura dan konsultan Amerika, Studer.

Arifin membuat sebuah konsep perjanjian niaga baru dengan Belanda, tanpa ada persetujuan dari Sultan Aceh. Perjanjian inilah yang dianggap Read yang kemudian melaporkan hal ini kepada Menteri Luar negeri Belanda Gericke va Herwijnen sebagai sebuah pengkhianatan. Menurut catatan Belanda, Aceh bersedia menerima tawaran Studer berupa intruksi-intruksi dan rencana pertahanan. Secara tidak langsung, 3 orang inilah yang mengakibatkan pecahnya perang Aceh. Kesalahpahaman, pengkhianatan dan ketakutan yang membuat Belanda menyatakan Perang terhadap Aceh. Menteri Luar Negeri Belanda tahun 1883 menyatakan; Read, Arifin dan Studer berperan besar sekali membuat kesalahan yang merupakan bencana terbesar dalam sejarah kita selama setengah abad terakhir (perang aceh). Adalagi seorang J M Loudon, Gubernur Jendral saat itu yang menyambung berita dari Hindia ke Belanda dan meminta adanya Perang Aceh dan mengirimkan pasukan besar-besaran ke Aceh.

Kesemrautan Pemerintah Belanda

Masalah kolonial menjadi pembicaraan seru di pertengahan abad ke 19 di Eropa terutama di Belanda, ditambah pemasalahan hak pilih dan pendidikan dan Aceh. Perang ini sangat memberatkan Belanda, baik dari sisi SDM, Keuangan sampai naik turunnya Menteri Jajahan Belanda. Hingga sampai CHJ van der Wijck dan penasehatnya Snouck Hurgronje keadaan itu bisa dikendalikan. Pendeta JH Gunning di Den Haag menerbitkan buku dengan judul yang sarat makna, Acchin, een waarshuwing Dods aan ons (Aceh, suatu peringatan Tuhan kepada kita).

Beberapa penyair pro-kolonial membangkitkan semangat pejuang dengan mengorbankan syair-syair berbahasa belanda, yang lebih kurang artinya:

Ke Aceh, keraton! Sarang segala kejahatan Persekongkolan, pembajakan dan khianat berkecamuk Tumpas semua selingkuh, hajar si laknat Dengan sang tiga warna Belanda peradaban Tumbuh

Seluruh syair itu mengedepankan kebejatan Orang Aceh, pengkhinatan dan kemunafikan, kelicikan, fanatisme dalam bentuk jihad, ketagihan madat dan kemerosotan akhlaq dalam arti seksual, wanita aceh suka berias di pesta. Bahkan mereka menafsirkan Perang Aceh ini adalah Siksa Allah pada Aceh. Dalam buku Schetsen uit de Atjeh-oorlog (coret-coret dari perang Aceh), bahkan ada tulisan “ kami ingin meyakinkan anda bahwa karena sifat kebinatangan mereka dan tindakan mereka yang tidak berprikemanusiaan, mereka tidak berhak lagi mengharapkan sikap merenggang dari kita"

Tapi di lapangan, tetap saja Belanda merasa resah, tidak pernah satu kali pun ekspedisi Belanda menyertakan seorang Gubernur Jendral seperti Jendral Van Swieten, seorang Jendral berpengalaman di Hindia yang sudah pensiun, diikutsertakan dalam Ekspedisi kedua karena pengalamannya terhadap perang. Setelah mengalami kegagalan di tahun 1873, kedudukan belanda di Hindia pecah menjadi dua kubu, pro kolonial dan kontra kolonial. Pihak kontra meminta pertanggungjawabn Loudon yang merencakanan serangan tanpa persiapan matang dan dengan nafsu serakah. Perpecahan pun bersambung ke tingkat media yang saling menyerang kabar dan argumen tentang penyerangan di Aceh. Selain itu di Belanda, terjadi pergantian Menteri Jajahan selama kurun waktu yang tidak semestinya, yang berpengaruh pada pergantian beberapa jabatan militer penting baik di Belanda, maupun di Batavia. Beberapa jendral yang menjadi kambing hitam kegagalan ekspedisi pertama dipecat, dan menjadi kaum oposisi pemerintah, seperti HB van Daalen.

Ekspedisi kedua yang dipimpin Van Swieten kali ini dipersiapkan dengan penuh persiapan, dimulai dengan diskusi panjang dengan Menteri Fransen van de Putte. Anggaran belanja militer dinaikkan 5.5 juta gulden. Pemerintah diberikan hak merekrut ribuan tentara dengan bayaran tinggi dari eropa. Persiapan pengadaan senjata difokuskan dengan 72 meriam, dua mitraliyur, kereta api kecil dengan rel 6 km dan 16 gerbong dan suku cadangnya, pompa air, bengkel besi dan perlengkapan makan lengkap.

Persiapan pasukan pun tidak tanggung-tanggung, tentara yang bersatu dalam NIL berisikan orang-orang Afrika (Belanda Hitam, yang dalam beberapa catatan dikatakan, pejuang Aceh sangat takut dengan perawakan Afrika), budak dari Jawa dan Ambon serta para narapidana. Total jumlah tentara pada ekspedisi kedua ini adalah 13.000 orang (389 perwira, 8100 bawahan, 1000 pelayan, 3200 narapidana dan 243 wanita). Perjalanan bermula dari Batavia dan beberapa kota garnisun di Jawa dengan 19 kapal pengangkut termasuk kapal terkenal Maddaloni dan Nino Bixio dari Italia yang berbobot 1500 ton berlayar selama 10-14 hari.

Pelayaran bukan tanpa kesulitan, wabah kolera yang dibawa dari Batavia menyebabkan ribuan orang terjangkit. Dalam perjalanan saja sudah meninggal 60 orang, hujan tiada henti, dokter yang kurang serta kawasan pantai aceh yang becek menjadi hambatan tersendiri dalam pendaratan ekspedisi kedua ini. Pendaratan di Aceh dipercepat demi alasan agar wabah kolera bisa diminimalkan. Pendaratan ini memakan waktu 14 hari sampai pasukan induk berhasil membuat benteng sementara di Peunayong, 1.5 km dari keraton. Penyakit kolera semakin menyebar, bahkan sampai ke penduduk Aceh. Sebelum menyerang secara senjata, belanda sudah menyerang Aceh dengan wabah kolera yang dibawa dari Batavia.

Sebelum mendarat, van Swieten telah mengirim utusan-utusan ke Aceh, namun tidak ada yang kembali dan mendapatkan hasil, kecuali sebuah pengkhianatan Teuku Nek, seorang Hulubalang yang menyatakan menyerah. Dari Teuku Nek inilah diketahui letak Keraton yang pada ekspedisi pertama tidak diketahui.

Keserakahan di Aceh

Di Aceh pun sebenarnya keadaan keadaan tidak kalah buruk, raja-raja kecil saling berebut kekuasaan, para Uleebalang tidak lagi memerintah dengan baik. Sultan memerintah dalam usia muda, 15 tahun. Untungnya Aceh mempunyai seorang tokoh Habib Abdurrahman Zahir yang ahli dalam hal diplomatik, rohani dan pengetahuan duniawi.

Keserakahan Aceh ditandai dengan pengkhianatan beberapa tokoh yang tidak mempunyai bagian dalam kerajaan seperti Teuku Nek, Teuku Nya lam Reung. Selain diberi imbalan uang, mereka juga dijanjiakn jabatan saat Belanda berhasil menguasai Keraton, makanya posisi Keraton pun diberitahukan.

Penyerangan pertama adalah terhadap Mesjid Baiturrahman pada tanggal 6 Januari 1874. Dengan 1400 pasukan dengan hasil yang sangat merugikan Belanda, ratusan perwira tewas dan pasukan ditarik mundur ke Peunayong. Atas saran Teuku Nek Meuraksa, Keraton dikepung dengan mengitarinya dan dipersiapkan artileri yang lengkap. Tanggal 24 januari 1874, penyerangan kedua dilancarkan dengan kekuatan penuh. Namun Istana telah kosong. Tidak ada sisa di dalam istana, dan Belanda menyatakan dengan bangga, Keraton telah jatuh. Kegagalan Ekspedisi Pertama (1873) telah ditebus dengan kemenangan Ekspedisi Kedua (1874)

Pesta pun digelar, telegram yang menyatakan penguasan keraton sampai ke Batavia. Musik-musik dimainkan disluruh gedung pemerintahan Belanda, pesta dibuat dimana-mana. Medali perang dipersiapkan kepada semua pasukan dalam Ekspedisi kedua. Tewasnya 4000an orang pasukan baik sakit dan penyerangan dan lebih 1000 dibawa ke Padang untuk dirawat, mendapatkan hasil setimpal. Perwira Belanda di Aceh berebut daerah kekuasaan, dan Belanda merubah nama kota menjadi Kutaradja.

Tanggal 1 mei 1874, van Swieten kembali ke Batavia, penyambutan hangat atas keberhasil Ekspedisi dibarengi dengan bersatunya kembali pihak-pihak yang pro dan kontra. Tanggal 27 agustus 1874 ditandai sebagai titik balik keberhasilan belanda dengan dibentuk kabinet konservatif baru.

Kondisi di Aceh

Penyerangan pasukan yang dipimpin Van Swieten ke keraton dianggap sebagai kemenangan sempurna Belanda atas Aceh. Hal ini ditandai dengan pergantian nama keraton menjadi Kutaradja. Van Swieten kembali ke Batavia dan Belanda dengan berbagai penghargaan dan tugasnya di Aceh digantikan oleh Kolonel Pel. Strategi Belanda selama awal kepemimpinan Kolonel Pel adalah menunggu para pemuka di Aceh untuk menyerah disamping mengisi pos-pos pertahanan di sekeliling keraton bila ada penyerangan dari pihak Aceh.

Keadaan di Aceh saat itu sangat rumit, seluruh lembah Aceh Besar dilanda banjir, jembatan zeni (sekarang jembatan pante pirak) hancur lebur oleh terjangan banjir. Wabah kolera yang masuk ke Aceh dari pasukan Belanda terjangkit ke masyarakat Aceh, termasuk kepada Sultan yang akhirnya mangkat dalam usia muda di Istana darurat di Masjid Leung Bata.

Selain jatuhnya keraton dan mangkatnya Sultan, tidak ada lagi hasil kemenangan yang didapat Belanda. Perjuangan masyarakat Aceh masih tetap kuat mempertahankan tanah airnya. Secara komando, perjuangan masyarakat dipimpin oleh Imum Leung Bata dan Panglima Polim serta Tuanku Hasyim. 1 Januari 1875, sejarah penting perjuangan Aceh ditandai dengan penyerangan pasukan Belanda ke arah Leung Bata. Pasukan yang berjumlah 1000 orang berangkat jam 5 pagi terbagi atas 3 pasukan. 2 pasukan akan berangkat dari Keraton ke arah Leung Bata, sementara 1 pasukan lagi berangkat dari Olehleh (pantai Ulhelhee) dan akan bertemu di daerah Lhong untuk sama-sama menyerang Leung Bata. Padahal mereka tidak tahu dimana letak pastinya Leung Bata.

Disepanjang perjalanan yang berjarak 2 kilometer, mereka menghabiskan waktu sampai pukul 3 sore. Karena sepanjang perjalanan, mereka dihadang oleh beberapa pejuang yang berani mati dengan menggunakan kelewang dan bambu runcing membunuh setiap pasukan yang dapat mereka bunuh. Pada sore hari mendekati maghrib, sebuah isyarat terompet komandan Wilhelmus van Nassauwe yang mereka anggap sebagai pertanda mereka sudah sampai ke tujuan terdengar oleh pasukan lainnya. Namun ternyata isyarat itu menandakan pasukan itu tengah digempur pejuang Aceh yang mengakibatkan semua pasukan cedera dan kembali ke keraton dalam keadaan sangat parah. Bantuan yang didatangkan dari keraton tidak diijinkan untuk melanjutkan perang, karena memprioritaskan kepulangan pasukan yang cedera. Penyerangan 1 januari 1875 gagal, kolonel Pel mengalami kekalahan pertamanya.

Kepemimpinan di Aceh

Di Lapangan, Aceh mempunyai Polim, Hasyim dan Leung Bata. Namun untuk urusan diplomatik, Aceh mempunyai Habib Abdurahman dan Tibang Muhammad (masih banyak pendapat tentang konsistensi dua pemimpin ini terhadap Aceh). Merekalah yang mengusahakan hubungan diplomatik Aceh dengan Turki, Perancis, Rusia, Inggris, Jerman, Amerika dan Italy. Tidak kesemuanya berhasil, karena hubungan Turki dan Rusia tengah rusak, Amerika dan Italy merasa dikecewakan Muhammad Arifin dalam pengkhianatan Singapura. Hanya Jerman, Perancis dan Turki serta Inggris (yang persaingannya dengan Belanda dalam Traktat London belum selesai) yang bersedia membantu Aceh dari kawasan Penang, Malaysia. Diaturlah Dewan nan Delapan, pusat bantuan untuk Aceh.

Dukungan untuk Aceh dilakukan baik moril dan persenjataan. Uang yang terkumpul sampai akhir 1874 sejumlah seratus ribu ringgit spanyol, diluar persenjataan yang diselundupkan ke Aceh. Semua Masjid di Penang mendoakan Aceh dalam setiap Jamaah yang digelar. Kekuatan marwah Islam membawa seluruh muslim mendoakan Aceh hingga sampai seluruh Masjid dan Surau di Jawa mendoakan Aceh. Hal ini dilaporkan oleh oleh Samarangsche Courant (Koran Semarang). Penasehat Kehormatan untuk Urusan Bumiputera KF Holle bahkan menjadi agen rahasia untuk memastikan seberapa besar pengaruh Perang Aceh terhadap seluruh Muslim di tanah Jawa, dan kesimpulannya: ”Pengaruhnya Sangat Besar”

Dukungan dengan latar belakang Islam inilah yang menjadi awal munculnya organisasi Islam berbafas politik pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia seperti Serikat Islam, Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama

Tahun 1876, menjadi sebuah rekor baru bagi Belanda, belum pernah satu daerah pun dalam penyerangan Belanda, pasukan berjumlah 40.000 ribu pasukan yang terdiri dari fuselir Eropa, Hindia dan Afrika. Pada tahun itu, dikarenakan perang, 3000 militer meninggal termasuk Kolonel Pel, dan 8000 orang luka-luka dan sakit. Pembangunan jalan dari Olehleh ke Kutaradja mulai dibangun oleh narapidana.

Perjuangan Masyarakat Aceh yang dipimpin dari Leung Bata pun mulai terorganisir, tidak lagi bersikap liar. Sesekali Istana dipindah kedalam ke arah Indrapuri sampai ke Pedir (Pidie). Disinilah pasukan bertemu dengan Habib yang masuk ke Aceh dari arah Idi dan bertemu di daerah Keumala di Pidie. Sementara komando militer dipimpin oleh Teungku di Tiro yang memimpin dari daerah Montasik.

Teungku Saman di Tiro adalah lepasan Pesantren yang menggabungkan Perjuangan Aceh ke dalam definisi Jihad pada Agama Islam. Selain mengajarkan taktik perang, Di Tiro pun berceramah tentang pentingnya Syahid dalam Islam ketika memperjuangkan haknya. Dalam masa inilah mulai dikenal kembali Hikayat Aceh, sebagai propaganda berbentuk cerita mimpi perjuangan, dengan bentuk buku-buku kecil, hikayat ini tersimpan dalam benak pejuang aceh sebagai media motivasi dalam setiap perjuangan.

Namun perjuangan Aceh tercoreng pada tanggal 25 agustus 1878. Habib Abdurrahman menyerahkan diri di daerah Lambaro. Dengan permintaan agar ia dikembalikan ke Arab dan sejumlah uang, ia menyerah beserta dengan ratusan pejuang Aceh. Namun menyerahnya Habib tidak berpengaruh dengan Aceh. Kesan yang ditimbulkan saat itu adalah; menyerahnya Habib karena ia gagal menjadi Sultan setelah Sultan yang pada masa itu pun masih muda (menggantikan kakaknya) sudah beranjak dewasa. Proses menyerahnya Habib pun tidak dihargai tinggi di Belanda. Belanda lebih menghargai Ibrahim Lamnga, Teuku Nanta Setia yang syahid saat melindungi Baiturahman ketimbang Habib yang menyerah. Aceh lebih dihargai Belanda karena perjuangannya, ketimbang karena pengkhianatannya.

Tahun 1879, penyerangan Belanda selama 3 tahun hanya sampai pada Indrapuri, 15 kilometer dari Kutaradja, pencapaian yang tidak sebanding dengan meninggalnya 2000 pasukan. Tahun ini menjadi titik balik keberhasilan Belanda di Aceh.

Jendral di Aceh Van der Heijden yang mempertaruhkan prestisenya, setelah penyerbuan dari darat tidak mendapatkan hasil, pendaratan dari laut pun diusahakan. Daerah Samalanga menjadi tujuan utamanya, meski raja sudah menyatakan takluk, perjuangan pejuang Aceh tidak memperdulikan raja yang berkhianat. Peperangan tahun 1880 di Batee Iliek mengakibatkan Van der Heidjen kehilangan sebelah matanya, sehingga ia mempunyai julukan Jendral mata sebelah. Hal ini menyebabkan Belanda makin garang, tapi tetap tanpa hasil. Belanda yang mulai panik membakar kampung-kampung, membunuh wanita dan anak kecil. Membakar apa yang bisa dibakar dan kebiasaan Van der Heidjen adalah berfoto diatas tumpukan mayat-mayat dan di bekas kampung yang ia bakar. Pemerintahan Belanda pun didirikan di Kutaradja, Bangunan-bangunan militer dibangun, untuk sementara Kutaradja Aman.

Perang kata-kata

Aman di Aceh, tidak demikian di Eropa. Kepulangan van Swieten mendapatkan sambutan beragam. Perang kata-kata dari pihak kontra dan pihak oposisi menjadi trend sendiri. Ada anggapan bahwa Ekspedisi Kedua Belanda bukannya gagal, namun setengah berhasil. Pendudukan Keraton tidak sebanding dengan jumlah pasukan yang mati serta gulden yang telah dikeluarkan.

Dimulai dari buku Brief aan den Koning karya Multatuli tahun 1872 yang meramalkan perang Aceh, lalu kemudian perang kata-kata di koran Eropa yang mengkritik kebodohan Belanda menyerang Aceh, sehingga membuat van Swieten mengeluarkan buku De waarheid over onze vestiging in Atjeh sebagai pembelaan terhadap kebijaksanaannya dalam ekspedisi kedua. Dalam buku itu Swieten berdalih bahwa keadaan di Aceh sangat rumit terkait Kolera, Disentri dan Tifus yang melanda. Dijelaskan pula kondisi cuaca dan tanah di Aceh yang sangat menyulitkan Belanda dalam melakukan pergerakan. Jendral Loudon pun yang kalah pada Ekspedisi Pertama merasa perlu mengeluarkan buku Loudon en Atjeh sebagai pembelaan.

Salah seorang yang mengkritisi Swieten adalah Jendral Verspijck, bersama Kapten GFW Borel, mereka mengeluarkan buku Onze vestiging in Atjeh (Pendudukan kita di Aceh) dan General Van Swieten en de waaheid (Jendral van Sweiten dan Kenyataan), mereka membuka kedok Swieten yang takut terhadap perjuangan Aceh. Dalam buku itu dilaporkan terdapat 500 kampung yang dibakar, 30.000 orang meninggal, 160 juta gulden dihabiskan dengan hasil rakyat mendendam, dan luas daerah jajahan yang relatif kecil. Bagian akhir buku ini menyimpulkan: ”…dan orang merasa heran bahwa perang begitu lama berlangsung dan orang Aceh tidak mau takluk kepada suatu bangsa yang tentaranya mereka lihat begitu keji melakukan pembersihan”

Perang Aceh kedua berakhir dengan mundurnya pusat perjuangan Aceh ke Pidie, munculnya dukungan dari Teuku Umar di Barat, makin kuatnya pasukan Panglima Polim dan Imum Leung Bata, berbanding terbalik dengan peperangan kata-kata, defisit anggaran Pemerintah dan pergantian banyak kolonel di Belanda. Sementara itu pemerintahan Belanda sementara di Aceh hanya sebatas Kutaradja dan Indrapuri, itupun masih mendapatkan perlawanan dari Rakyat Aceh

Perang Aceh kedua melahirkan Perjuangan yang lebih besar dan luas. Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien bersiap sedia membantu. Kerajaan kecil di Pasai, Meulaboh, Sigli, Langsa bersiap berangkat ke Aceh memulai Perang Aceh ketiga..


Sumber

Jurnalis JH Blog

Navigasi
Kategori Utama
AcehPedia
Komunitas Lokal
Kotak peralatan
Share Tools