Perekonomian Kabupaten Aceh Tamiang
Dari AcehPedia
Kabupaten ini lahir antara lain juga karena didukung oleh berbagai potensi daerah yang dimilikinya. Di wilayah ini terdapat Perusahaan Minyak Nasional (Pertamina) yang memberikan kontribusi besar bagi perkembangan Kabupaten Aceh Tamiang. Selain itu di daerah ini juga terdapat potensi kelautan, berupa tambak udang dan tambak ikan. Potensi ini tergambar dalam lambang kabupaten berupa dua riak air laut dan tujuh anak tangga menara minyak. Angka dua dan tujuh melambangkan hari lahir kabupaten tersebut, 2 Juli.
Aceh Tamiang memang kaya akan bahan-bahan mineral, antara lain minyak dan gas bumi, batu gamping, dolomit, dan andesit. Bahan-bahan tambang ini tersebar di kecamatan-kecamatan Aceh Tamiang. Bahan tambang yang sudah diolah hanya minyak bumi dan dolomit.
Minyak bumi dikelola sepenuhnya oleh Pertamina DOH-NAD Rantau. Minyak dan gas bumi yang telah dieksploitasi ini tersebar di wilayah Kecamatan Karang Baru, Rantau, dan Kejuruan Muda. Adapun penyebaran minyak bumi dan gas bumi yang potensial terdapat di lepas pantai wilayah Kecamatan Bendahara dan Seruway. Rata-rata setiap tahun kontribusi minyak bumi bagi produk domestik regional bruto (PDRB) mencapai sekitar 17 persen.
Sementara itu, bahan tambang golongan C yang berupa dolomit, batu kapur/batu gamping, batu pasir, kerikil, dan batu apung tersebar di Kecamatan Kejuruan Muda dan Tamiang Hulu. Potensi bahan mineral yang paling dominan adalah batu gamping dan dolomit.
Sampai saat ini sektor pertanian masih memegang peranan penting dalam perekonomian Tamiang. Sebab, di samping sebagian besar penduduk berdiam di desa, perkembangan perekonomiannya didominasi oleh hasil komoditas pertanian. Sumbangannya dalam lima tahun terakhir bagi PDRB rata-rata mencapai 40 persen lebih, dan kontribusi terbesar diperoleh dari tanaman bahan pangan, sekitar 20 persen.
Tanaman perkebunan yang dibudidayakan di antaranya adalah karet, kelapa sawit, kopi, kelapa, kakao, dan jeruk. Total luas areal perkebunan mencapai 101.179 hektar yang terbagi dalam perkebunan rakyat 23.392 hektar dan perkebunan swasta 77.787 hektar. Dari sektor perkebunan, kelapa sawit menjadi andalan. Areal perkebunan ini mencapai 30.000 hektar lebih yang tersebar di hampir semua kecamatan-kecuali di Kuala Simpang-dengan produksi 300.000 ton lebih.
Perkebunan ini selain milik swasta (27.938 hektar dengan produksi 262.067 ton) juga milik rakyat (6.869 hektar dengan produksi 65.471 ton). Sebanyak 3.073 rumah tangga petani menggantungkan hidup dari lahan usaha ini. Hasil perkebunan tersebut kemudian dikirim ke pabrik kelapa sawit yang ada di Aceh Tamiang yang dimiliki oleh perusahaan BUMN dan BUMD, seperti PT Socfindo, PT Simpang Kiri Plantation Indonesia, dan PT Parasawita.
