Polusi Udara di Kota Banda Aceh
Dari AcehPedia
Setelah terjadinya bencana Tsunami yang menerjang Nanggroe Aceh Darussalam pada 26 Desember 2004, banyak bermunculan lembaga-lembaga nirlaba baik lokal mau pun asing yang ikut bagian dalam merekontruksi dan rehabilitasi Aceh. Dengan adanya lembaga-lembaga tersebut menyebabkan tingginya permintaan tenaga kerja khususnya kota Banda Aceh sehingga banyak orang dari daerah di Aceh bahkan sampai daerah luar Aceh datang ke Banda Aceh untuk mencari pekerjaan.
Banyaknya jumlah pendatang di kota Banda Aceh, mengakibatkan meningkatnya jumlah populasi penduduk di kota ini. Hal tersebut kemudian menjadi salah satu pemicu meningkatnya jumlah kendaraan seperti mobil, sepeda motor, dan lain-lain. Jalan-jalan utama yang dulunya tidak pernah terjadi kemacetan kini kerap terjadi di beberapa sudut kota akibat dari banyaknya jumlah alat transportasi yang ada di kota Banda Aceh.
Polusi dari pembuangan asap knalpot kendaraan bermotor tersebut dapat membuat pencemaran udara. Hal tersebut dapat berbahaya bagi kesehatan para pengendara motor sendiri dan membuat suhu di kota Banda Aceh menjadi semakin panas akibat pencemaran udara tersebut.
Selain itu asap kendaraan membuat kota Banda Aceh serasa tertutupi oleh kabut hitam. Dengan kondisi seperti ini diharapkan Pemerintah Kota dapat menunjukkan kepeduliannya dengan membatasi jumlah kendaraan yang ada dan membangun beberapa taman kota untuk mengurangi polusi di kota Banda Aceh.
