Tun Sri Lanang

Dari AcehPedia

Langsung ke: navigasi, cari

Daftar isi

Raja Pertama negeri Samalanga

Sebuah negeri di pesisir utara Aceh, bernama Samalanga, Raja Pertama nya adalah seorang Permata dari Melayu Johor , dialah Tun Sri Lanang. Tun Sri Lanang sebenarnya dia dalah seorang Bendahara di Kerajaan Johor. Nama aslinya adalah Tun Muhammad. Dia diangkat menjadi Raja Pertama Samalanga pada tahun 1615. Kisah Tun Sri Lanang ini diambil dari rangkuman beberapa penulis.

Kebesaran Kesultanan Islam Malaka hancur setelah Portugis menaklukkannya tahun 1511. Banyak pembesar kerajaan yang menyelamatkan diri ke kerajaan lainnya yang belum dijamah Portugis. Sebut saja Pahang, Johor, Pidie, Aru (Pulau Kampai), Perlak, Daya, Pattani, Pasai dan Aceh. Portugis berusaha menaklukkan kerajaan Islam yang kecil ini dan tanpa perlawanan yang berarti. Perkembangan tersebut membuat gundah Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1530).

Sultan berkeinginan untuk membebaskan negeri Islam di Sumatera dan Semenanjung Tanah Melayu ini dari cengkeraman Portugis. Keinginan Sultan didukung penuh oleh pembesar negeri Aceh dan para pencari suaka dari Melaka yang menetap di Bandar Aceh. Sultan memproklamirkan Kerajaan Islam Aceh Darussalam pada tahun 1512, dengan visi utamanya menyatukan negeri kecil seperti Pedir, Daya, Pasai, Tamiang, Perlak dan Aru.

Sultan Alaidin Ali Mughayatsyah berprinsip. “Siapa kuat hidup, Siapa lemah tenggelam”. Karenanya dalam pikiran Sultan untuk membangun negeri yang baru diproklamirkannya perlu penguatan di bidang politik, luar negeri, militer yang tangguh, ekonomi yang handal dan pengaturan hukum/ketatanegaraan yang teratur. Dengan strategi inilah, menurut pikiran Sultan, Kerajaan Islam Aceh Darussalam akan menjadi negara yang akan diperhitungkan dalam percaturan politik global, sesuai dengan masanya dan mampu mengusir Portugis dari negeri Islam di nusantara yang telah didudukinya.

Dasar pembangunan kerajaan Islam Aceh Darussalam yang digagaskan Sultan Alaidin Ali Mughayatsyah dilanjutkan oleh penggantinya Sultan Alaidin Riayatsyah Alqahhar, Alaidin Mansyursyah, Saidil Mukammil dan Iskandar Muda. Aliansi dengan negara-negara Islam di bentuk, baik yang ada di nusantara maupun di dunia Internasional. Misalnya Turki, India, Persia,Maroko. Pada zaman inilah Aceh mampu menempatkan diri dalam kelompok “lima besar Islam” negara-negara Islam di dunia. Hubungan diplomatik dengan negeri nonmuslim pun dibina sepanjang tidak mengganggu dan bertentangan dengan asas-asas kerajaan (A. Hasyimy, Kebudayaan Aceh Dalam Sejarah).

Tun Muhammad / Tun Sri Lanang

Perseteruan kerajaan Aceh dengan Portugis terus berlangsung sampai tahun 1641. Akibatnya banyak anak negeri yang syahid baik itu di Aceh sendiri, Aru, Bintan, Kedah, Johor, Pahang danTrenggano. Populasi penduduk Aceh menurun drastis. Sultan Iskandar Muda mengambil kebijakan baru dengan menggalakkan penduduk didaerah takluknya untuk berimigrasi ke Aceh inti, misalnya dari Sumatera Barat, Kedah, Pahang, Johor dan Melaka, Perak, Deli.

Sultan Iskandar Muda menghancurkan Batu Sawar, Johor, pada tahun 1613. Seluruh pendudukJohor, termasuk Sultan Alauddin Riayatshah III, adiknya Raja Abdullah, Raja Raden dan pembesar- pembesar negeri Johor-Pahang seperti Raja Husein (Iskandar Thani), Putri Kamaliah (Putroe Phang) dan Bendaharanya (Perdana Mentri), Tun Muhammad kemudian dipindahkan ke Aceh. Sultan Iskandar Muda kemudian menjadikan Tun SriLanang sebagai raja pertama ke Samalanga atas saran dari Putri Kamaliah. (A.K. Yakobi, Aceh Dalam Perang Mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 1945-1949). Rotasi pimpinan ini sering ditempuh guna mencegah terjadinya pemberontakan raja-raja yang mendapat dukungan rakyat.


Tun Sri Lanang Di Nobatkan Sebagai Raja Pertama Samalanga

Penobatan Tun Sri Lanang menjadi Raja Samalanga mendapat dukungan rakyat, karena disamping dia ahli di bidang pemerintahan juga alim dalam ilmu agama. Sultan Iskandar Mudamengharapkan dengan penunjukan tersebut akan membantu pengembangan Islam di pesisir Timur Aceh. Namun penunjukkan Tun Sri Lanang sebagai raja tidak serta merta berjalan mulus. Hal itu karena adanya tentangan dari beberapa tokoh masyarakat yang dipimpin oleh Hakim Peut Misei. Dia justru menginginkan kelompoknyalah yang berhak menjadi raja pertama Samalanga.

Menurut kisah dan penuturan orang- orang tua di sana. Setelah Hakim Peut Misee dan sebelas orang pemuka negeri lainnya bersama rakyat setempat selesai membuka negeri Samalanga, lalu mereka bermusyawarah untuk menentukan siapa diantara mereka yang berhak menjadi raja pertamaSamalanga. Diantara panitia yang terlibat dalam persiapan pengukuhan keuleebalanganSamalanga dan daerah takluknya,terjadi perselisihan dan perbedaan pendapat. Demi mengatasi perselisihan tersebut,atas saran masyarakat, keduabelas orang panitia tersebut kemudian menghadapSultan Iskandar Muda. Mereka menyerahkan keputusan tersebut kepada sultan, yang akan menentukan pilihan terbaiknya untuk memimpin negeri pusat pendidikan Islam itu.

Rencana dan kabar tersebut diam-diam sampai juga ketelinga Puteri Pahang. Dia mengetahui rencana pertemuan duabelas tokoh masyarakat yang akan menghadap sultan. Putri Pahang menginginkan ke-uleebalangan Samalanga dan daerah takluknya diisi oleh Datok Bendahara, yang bergelar Tun Sri Lanang, yang tak lain adalah saudaranya sendiri. Siasat pun diatur dan berbagai cara juga ditempuh. Lalu Tun Sri Lanang diperintahkan berlayar ke Samalanga, di sana dia harus berpura-pura sebagai seorang nelayan yang kumuh tetapi ahli melihat bintang. Berdasarkan rencanaPutri Pahang, Tun SriLanang harus sampai duluan di Samalanga dan ke dua belas tokoh masyarakat tersebut diusahakan menggunakan jasa Tun Sri Lanang untuk berlayar ke Kuala Acehmenghadap Sultan.

Pada hari yang telah di sepakati bersama, berangkatlah dua belas orang panitia menghadap sultan dengan didampingi seorang pawang dari kuala Samalanga menuju kuala Aceh. Ke dua belas orang itu kemudian bertemu dengan Sultandan mengutarakan maksud dan tujuannya. Mereka lalu meminta kepada Sultan agar salah satu dari mereka dinobatkan menjadi ulee balang pertama Samalanga. Setelah meminta pendapat orang - orang besar kerajaan dan Puteri Pahang, Sultan setuju menobatkan salah satu dari mereka menjadi Raja pertama. Namun dengan satu syarat apabila cincin kerajaan yang telah disiapkan oleh Puteri Pahang cocok di jari kelingking mereka.

Mereka lalu mecoba satu persatu di jari mereka, tetapi cincin kerajaan tersebut terlalu besar untuk dipakai pada jari kedua belas orang tersebut. Puteri Pahang menanyakan pada mereka apa ada orang lain yang tidak dibawa ke balai rung Istana? Mereka dengan hati kesal menjawab memang masih ada tukang perahu. Tun Sri Lanang pun kemudian dihadapkan kehadapan Sultan. Dia mencoba cincin kerajaan itu, ternyata sangat cocok untuk jari kelingkingnya.

Karena itu kemudian Sultan Iskandar Muda menobatkan Tun Sri Lanang menjadi Raja pertamaSamalanga. Namun sewaktu mereka pulang, Tun Sri Lanang tiba-tiba dibuang di tengah laut di kawasan Laweung. Kejadian tersebut kemudian dikenal dalam masyarakat Samalanga sebagaiPeristiwa Laut. Beruntung, Tun Sri Lanang berhasil diselamatakan oleh Maha raja Lela Keujroeun Tjoereh (Laweung).

Setelah menyelamatkan Tun Sri Lanang, Maharaja Lela Keujroeun Tjoereh bersama T. Nek Meuraksa Panglima Nyak Doom menghadap Sultan. Mereka memberitahukan penemuan Tun Sri Lanang di tengah laut. Mendengar berita tersebut, Sultan sangat murka, dia kemudian memerintahkan Maharaja Goerah bersama T. Nek Meuraksa Panglima Nyak Doom danMaharaja Lela Keu jroeun Tjoereh menemani Tun Sri Lanang ke Samalanga. Hakim Peut Misee dan sebelas orang panitia persiapan ke uleebalangan pun akhirnya dihukum pancung oleh sultan.

Tun Sri Lanang menjadi Uleebalang pertama Samalanga pada tahun 1615-1659 M. Dia mangkat dan dimakamakan didesa Meunasah Leung Samalanga. Pada masa pemerintahannya, dia berhasil menjadikan Samalanga sebagai pusat pengembangan Islam di kawasan Timur Aceh. Tradisi itu terus berlanjut sampai sekarang. Samalanga menjadi kubu kuat Sultan Aceh terakhir, Sultan Muhammad Daud Syah menentang penjajahan Belanda.

Disamping ahli pemerintahan, Tun Sri Lanang juga dikenal sebagai pujangga melayu. Karyanya yang monumental adalah kitab Sulalatus Salatin. Menurut Winstedt, kitab ini dikarang mulai bulan Februari 1614 dan selesai Januari 1615 sewaktu menjadi tawanan di kawasan Pasai. Ketika di Batu Sawar,Tun Sri Lanang sudah mulai menyusun penulisan sejarah Melayu berasaskan kitab Hikayat Melayu yang diberikan oleh Yang Dipertuan di Hilir, Raja Abdullah. Dia kembali menyambung pekerjaanya menyusun dan mengarang kitab sejarah Melayu tersebut di Aceh sampai lengkap.

Apabila kita baca mukaddimah kitab ini, tidak jelas disebutkan siapa pengarang yang sebenarnya. Dan ini biasa dilakukan oleh pengarang – pengarang dahulu yang berusaha menyembunyikan penulis aslinya terhadap hasil karangannya. Bahkan menyebutkan dirinya sebagai fakir. Kalimat aslinya sebagai berikut : “Setelah fakir allazi murakkabun ‘a;a jahlihi maka fakir perkejutlah diri fakir pada mengusahakan dia, syahadan mohonkan taufik ke hadrat Allah, Tuhan sani’il - ‘alam, dan minta huruf kepada nabi sayyidi’l ‘anam, dan minta ampun kepada sahabat yang akram; maka fakir karanglah hikayat ini kamasami’ tuhu min jaddi wa abi, supaya akan menyukakan duli hadrat baginda". Maka fakir namai hikayaat ini “ Sulalatus Salatin” yakni “pertuturan segala Raja-Raja”.

Keturunan Tun Sri Lanang di Aceh yaitu Tun Rembau yang lebih dikenal dengan panggilan T. Tjik Di Blang Panglima Perkasa menurunkan keluarga Ampon Chik Samalanga sampai saat ini dan tetap memakai gelar Bendahara diakhir namanya seperti Mayjen T. Hamzah Bendahara. Sedangkan sebagian keturunannya kembali ke Johor dan menjadi bendahara (Perdana Menteri) disana sepertiTun Abdul Majid yang menjadi Bendahara Johor, Pahang Riau, Lingga (1688- 1697). KeturunanTun Abdul Majid inilah menjadi zuriat Sultan Trenggano, Pahang, Johor dan Negeri Selangor Darul Ihsan hingga sekarang ini.

Menelusuri jejak Tun Sri Lanang

Menelusuri jejak Tun Sri Lanang, raja pertama Samalanga (1615-1659), seperti membuka kembali lembaran sejarah yang telah ratusan tahun tenggelam. Banyak orang Aceh tidak tahu tentang perjalanan sejarah saudara Putri Pahang (Putro Phang) itu, setelah diangkat menjadi raja oleh Sultan Iskandarmuda dan menghabiskan masa hidupnya di Samalanga.

Sudah delapan keturunan, kesultanan Johor, Pahang dan Trenggano, Malaysia, coba mencari di mana sebenarnya makam kakeknya Tun Sri Lanang dikuburkan, setelah Ampon Syeik pertama Samalanga itu meninggal dunia pada masa kejayaan Sultan Iskandarmuda. Meski begitu, Pemerintah Malaysia, telah menetapkan Tun Sri Lanang sebagai pujangga agung negara dan setiap bulan Juni diadakan pengkisahan sejarah Tun Sri Lanang di Johor.

Penelusuran jejak raja pertama Samalanga, dikuak kembali oleh pecinta sejarah yang juga dosen Fakultas Hukum Unsyiah, M Adli Abdullah, SH, asal Samalanga. Keinginan itu muncul setelah Teuku Syahrul Azwar, putra tertua (alm) Teuku Hamid Azwar, keturunan langsung Tun Sri Lanang meminta M Adli untuk mencari kebenaran sejarah dan kuburan indatunya di Samalanga.

Teuku Syahrul Azwar dan Cut Nyak Haslinda sudah lama menetap di Pulau Jawa pernah melakukan silahturrahmi dengan keluarga Tun Sri Lanang di Kerajaan Johor. Hanya Cut Nyak Naimah yang juga keturunan langsung Tun Sri Lanang yang masih menetap di rumah tua warisan kerajaan di Samalanga. Dari petunjuk Cut Nyak Naimah, akhirnya makam Tun Sri Lanang ditemukan dalam komplek bekas Istana Samalanga.

Begitu mengetahui keberadaan sebenarnya makam Tun Sri Lanang, keluarga kerajaan di Johor, Pahang dan Trenggano, Malaysia, ingin segera terbang ke bumi Aceh untuk menjeguk langsung kuburan indatunya. Namun, konflik Aceh yang berkepanjangn membuat langkah mereka terhenti untuk berziarahinya. Padahal. sudah ratusan tahun pihak kerajaan Johor terus mencari tahu, di mana keberadaan makam Tun Sri Lanang. Dalam catatan buku sejarah atau jurnal terbaru Malaysia, disebutkan Tun Sri Lanang pernah memerintah kerajaan di Samarland (Samalanga).

Untuk mencari jejak Tun Sri Lanang, M Adli mencari berbagai bahan rujukan. Selain dari T Syahrul Azwar, keturunan langsung Tun Sri Lanang juga menelusuri sampai ke Johor dan Pahang Malaysia. Se-kembali dari sana, dosen hukum yang juga Sekretaris Panglima Laot Aceh itu, bersama wartawan Serambi Indonesia coba menyelusuri sejarah Tun Sri Lanang ke Samalanga.

Karena peristiwa itu sudah ratusan tahun terlupakan. Pada awalnya, banyak tokoh masyarakat di sana tidak tahu persis di mana kuburan Tun Sri Lanang. Disana Tun Sri Lanang lebih dikenal dengan sebutan Tok Dad (Datuk Bendahara). Nama Tok Dad, kini diabadikan sebagai salah satu nama desa di kawasan Kuta Blang. Desa tersebut, merupakan tempat tinggal Tun Sri Lanang ketika pertama kali menginjak kakinya di Salamanga.

Akibat kurang akurat data yang diberikan sejumlah tokoh di sana, pada kunjungan pertama kami sempat mengabadikan kuburan lain yang tidak jauh dari kuburan Hakim Peut Mise lawan politik Tun Sri Lanang masa merebut kekuasaan, di Desa Lamcot. Namun, foto yang pernah disiarkan harian Serambi Indonesia dalam edisi Minggu pertengahan April 2004 yang batu nisannya berbentuk mahkota, baru ditemukan pada penelusuran berikutnya, Minggu (16/5) lalu, berkat petunjuk Cut Nyak Naimah.

Makam yang sudah ditutupi semak dan pagarnya sudah rusak, berada sedikit agak lebih tinggi dalam komplek bekas istana kerajaan Samalanga, kawasan Desa Kuta Blang, sekitar tiga kilometer dari pusat Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen. Di antara makam Tun Sri Lanang, ada tujuh makam Ampon Syiek (raja) lainnya, setelah dia berkuasa. Semua mereka adalah keluarga Tun Sri Lanang. Diantaranya, makam Ampon Syiek Ali Basyah (raja ke-7), Po Cut Meuligoe (raja ke-5), Teuku Syiek Muda Panglima Perkasa (raja ke-2) dan lain-lain.

Semuanya kurang terurus dengan baik. Namun, komplek yang sudah lama ditinggalkan itu, kini digunakan sebagai tempat pengajian anak-anak setempat. Menurut M Adli, makam "mahkota" yang sudah dibersihkan itu, batu nisannya persis sama dengan batu nisan kuburan keluarga Tun Sri Lanang yang dilihatnya ketika berkunjung ke Kota Tinggi Johor, Malaysia, belum lama ini.

Di batu nisan "mahkota" gaya Turki itu ada tulisan dalam bahasa Arab yang mulai kabur. M Adli yakin kuburan dalam komplek bekas istana sekitar 200 meter dari Masjid Kuta Blang dan pesantren tua Samalanga itu, merupakan makam raja pertama Samalanga, Tun Sri Lanang. Bentuknya berbebeda dengan kuburan keturunan raja lain dalam komplek itu, yang batu nisanya dalam bentuk biasa.

Ketika pertama kali melihat foto makam indatunya, keluarga kerajaan di Johor dan Pahang, teramat sedih. Karena terlantar begitu saja, pagar dan atapnya sudah jatuh dikelilingi semak-semak, terkesan seperti berada di tengah hutan. Padahal tidak. Makam itu berada dalam komplek bekas istana raja Samalanga yang berjarak sekitar 200 meter dari Masjid Kuta Blang. Semoga pihak kerajaan Johor, Malaysia mau memugar dan merawat komplek indatunya, sehingga menjadi objek sejarah.

Sejarah Tun Sri Lanang Nyaris Terlupakan

Meski masih tampak berdiri tegak di antara kawanan rayap, namun bangunan berukuran besar berkonstruksi kayu dengan ornamen khas rumah adat Aceh-Melayu di Desa Lueng, Kecamatan Samalanga. Bangunan itu menyimpan jutaan misteri yang terlupakan saat Islam berkembang pesat di kawasan pesisir Timur Aceh, ketika dipimpin Sultan Iskandar Muda abad 16 M.

Tak jauh dari lokasi itu, terlihat makam Dato’ Bendahara Tun Sri Lanang yang telah dipugar oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) NAD-Nias. Komplek situs kerajaan melayu Islam Samalanga ini, telah terabaikan dan sudah tidak ada penghuni lagi.

Memang, kisah sejarah Tun Sri Lanang sebagai raja Samalanga pertama yang diangkat oleh Sultan Iskandar Muda, kini sudah mulai dilupakan seiring peradaban zaman modern. Padahal sosok raja adil dari Negeri Johor, Malaysia ini dulu sangat tersohor. Bahkan, dia juga terkenal sebagai pujangga terkemuka melalui karya besar yang cukup populer, yakni kitab Sulalatus Salatin (Pertuturan Segala Raja-raja).

Tun Sri Lanang bernama asli Tun Muhammad bergelar Dato’ Bendahara Tun Muhammad dan Orang Kaya Seri Paduka Tun Seberang. Sebelum memimpin Negeri Samalanga 1615-1659 M, merupakan seorang Bendahara (Perdana Menteri) Kerajaan Pahang.

Menurut informasi yang dihimpun Rakyat Aceh, kisah Tun Sri Lanang berawal ketika negeri-negeri di dataran Malaka jatuh dalam jajahan Portugis sekitar 1511 M. Sejak saat itu, kekacauan melanda kawasan negeri melayu dan telah menyebabkan kebesaran kesultanan Islam Malaka hancur berkecai. Sehingga, banyak para petinggi kerajaan menyelamatkan diri ke sejumlah negeri Islam. Di antaranya, Pahang, Johor, Aru (Pulau Kampai), Perlak, Pattani dan Samudera Passai.

Kondisi ini telah membuat Sultan Alaidin Ali Mughayatsyah, gundah dengan keadaan buruk yang diderita oleh negeri-negeri Islam. Dia lantas memproklamirkan kerajaan Acheh Darussalam pada tahun 1512 M.

Semula misinya untuk menyatukan negeri-negeri kecil seperti Tamiang, Aru, Passai dan Pedir. Karena dengan aliansi kerajaan Islam ini, akan menjadi kekuatan besar untuk berperang melawan kafir Portugis yang menjajah bangsa muslim di dataran Malaka dan Sumatera. Tahun demi tahun terus berlalu, tapi perjuangan menyatukan negeri gagasan Sultan Aceh pertama kemudian dilanjutkan oleh keturunannya, yakni Sultan Alaidin Riayatsyah Alqahhar, Sultan Alaidin Mansyursyah, Saidil Mukammil dan Iskandar Muda.

Sejak berdiri hingga zaman kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, Kerajaan Acheh Darussalam berhasil menjalin hubungan luas. Selain memiliki persahabatan dengan negeri-negeri di nusantara, juga berhasil membuka hubungan bilateral ke timur tengah serta Asia Timur. Di antaranya Turki, Maroko, India dan Persia.

Selain itu juga termasuk negara non Islam dataran Eropa, sehingga Kerajaan Acheh cukup disegani di seantero dunia. Kondisi itu menjadi ancaman paling besar bagi Portugis yang masih menguasai Malaka. Karena peperangan terus dilancarkan ke kubu-kubu pertahanan bangsa penjajah itu. Berkat perjuangan keras, akhirnya satu persatu negeri dapat direbut kembali dari kafir Portugis. Bintan, Kedah, Johor, Pahang dan Trenggano mampu dikuasai Iskandar Muda.

Namun, peperangan itu terlalu banyak merenggut korban jiwa menyebakan populasi rakyat Aceh merosot tajam. Sultan berinisiatif membawa rakyat dari negeri yang telah dikuasai, untuk dipindahkan menetap di Aceh. Termasuk ketika berhasil menghancurkan Batu Sawar di Negeri Johor pada 1613. Hampir semua penduduk di negeri ini, beserta petinggi kerajaan bermigrasi ke Aceh, diantaranya Raja Husein (Iskandar Thani), Puteri Kamaliah (Putroe Phang) dan Bendahara (Perdana Mentri) Tun Muhammad yang cukup dikenal memiliki keteguhan iman dan budi pekerti luhur.

Karena Sultan Iskandar Muda bertekad mengembangkan ajaran Islam di kawasan pesisir timur, maka Tun Muhammad lalu diangkat menjadi Raja Samalanga pertama guna memperluas kepemimpinan sultan. Serta menyebarkan Islam di timur Aceh. Kemudian pada 1615 M, Tun Sri Lanang resmi menjadi raja perdana negeri Samalanga.

Pada zaman pemerintahannya, kerajaan itu berhasil mengembangkan Islam di pesisir utara hingga kawasan timur Aceh. Selain ahli tata pemerintahan, dia juga dikenal sebagai punjangga melayu melalui karya besar yang dituangkan dalam kitab Sulalatus Salatin (Pertuturan Segala Raja-raja).

Kitab fenomenal ini berhasil dirampungkan ketika ditawan di kawasan Samudera Passai. Karya-karya tulis Tun Sri Lanang itu, menjadi goresan sejarah yang masih tersisa dari kegemilangan kerajaan Islam Samalanga. Kemudian negeri kecil di kawasan ujung barat Kabupaten Bireuen ini, diperintah oleh keturunannya yakni Tun Rembau yang dikenal T Tjik Di Blang Panglima Perkasa.

Titisan Tun Sri Lanang ini menjadi Ampon Chik Samalanga, sesuai silsilah keluarga Ulee Balang itu seluruhnya mengenakan gelar Bendahara sebagai identitas kebangsawanan. Sampai Mayjen T Hamzah Bendahara yang menjadi putera terbaik Indonesia di era akhir 60 an silam.

Selain itu, keturunan Tun Sri Lanang juga kembali ke Johor dan menjadi petinggi kerajaan negeri ini, hingga menguasai negeri melayu seperti Selangor Darul Ihsan, Pahang, Johor dan Trenggano. Mereka adalah keturunan Tun Abdul Majid yang menjadi Perdana Menteri (Bendahara) Johor, Lingga dan Pahang Riau tahun 1688-1697 M.

sumber

Navigasi
Kategori Utama
AcehPedia
Komunitas Lokal
Kotak peralatan
Share Tools