Arsitektur Bangunan Rumah Teuku Sabi Silang Di Blang Krueng, Aceh Darusallam

Dari AcehPedia

Revisi per 12:05, 20 Mei 2011; Ratna sari (Bicara | kontrib)
(beda) ←Revisi sebelumnya | Revisi terkini (beda) | Revisi selanjutnya→ (beda)
Langsung ke: navigasi, cari

Daftar isi

Sejarah Bangunan Rumah Aceh

Suku bangsa Aceh yang mendiami sebagian besar daerah Aceh masih memiliki bangunan tradisioial. Jenis-jenis bangunan tradisioial yang dimilikinya berdasarkan kegunaannya dapat dikelompokkan atas bangunan tempat tinggal, bangunan tempat ibadat, dan bangunan tempat menyimpan harta.

Rumah tempat tinggal bagi suku bangsa Aceh disebut rumoh (rumah). Rumoh Aceh adalah rumah yang terdiri atas tiga ruang, yaitu ruang depan yang disebut seuramoe reunyeuen atau seuramoe keue, Inilah bagian dari rumah khas Aceh, tempat tamu-tamu dipersilahkan, di tempat ini kenduri diadakan, yaitu upacara makan bersama yang sifatnya keagamaan; di tempat ini pulalah diadakan pembicaraan atau rapat-rapat keluarga. Ruang tengah yang disebut tungai,di sini mengandung beberapa makna yang terdapat di dalamnya. Mengapa ruang tengah (tungai) lebih tinggi daripada ruangan (serambi) depan dan belakang. Hal ini disebabkan pada ruangan tengah terdapat kamar yang ditempati oleh orang-orang yang lebih tua yang perlu dihormati, seperti ayah, ibu dan anak-anak perempuan yang sudah dikawinkan (bersuami) dalam keluarga rumah tangga tersebut dan ruang belakang yang disebut seuramoe likot, Seuramoe likot, tempat tinggal para wanita dan tempat mereka melakukan kesibukan sehari-hari. Pada hakekatnya dipakai sebagai ruangan keluarga dan sebagaimana kita lihat, seringkali juga sebagai dapur. (Hadjad et al., 1984:21).

Letak ketiga ruang itu tidak sama rata, sebab ruang tengah lebih tinggi dari pada ruang depan dan ruang belakang. Rumoh Aceh, adalah merupakan bangunan di atas tiang-tiang bundar yang terbuat dari batang-batang kayu yang kuat. Tiang-tiang disebut tameh. Jumlah tiang ada yang 20 dan 24 buah yang besarnya lebih kurang 30 cm garis tengahnya. Tinggi bangunan sampai batas lantai lebih kurang dua setengah meter, sedangkan tinggi keseluruhan bangunan itu lebih kurang lima meter. (Hadjad et al., 1984:25; Hurgronje 1985:39)

Bagian bangunan yang berada di bawah lantai merupakan kolong terbuka karena tidak diberi dinding. Bagian ruangan rumah yang berada di atas tiang-tiang terbagi atas tiga ruangan, yaitu (1) ruangan depan disebut seuramoe reunyeuen (serambi bertangga) atau seoramoe keue (serambi depan), (2) ruang tengah yang disebut tungai, dan (3) ruang belakang (serambi belakang) yang disebut seuramoe likot. Ruang tengah letaknya lebih tinggi setengah meter dari pada ruang depan dan ruang belakang. Keseluruhan ruangan berbentuk ruangan empat persegi panjang. (Hadjad et al., 1984:27-28)

Pada bagian tengah dinding depan terdapat pintu masuk dan pada dinding samping kanan dan kiri terdapat jendela, sedangkan untuk naik ke atas rumah didirikan sebuah tangga dari kayu, Dengan letak pintu pada bagian depan berarti memasukkan orang-orang yang ke luar masuk rumah harus selalu merunduk, sebab kalau tidak merunduk pasti kepalanya akan terantuk dengan balok bara yang berada di atas pintu. Demikian pula halnya ketika orang akan menaiki tangga dan menuruni tangga, harus dalam keadaan murunduk. Itu sebabnya rumah Aceh dibuat tinggi-tinggi agar rumah yang tinggi itu memerlukan tangga. Atap rumah merupakan atap berabung satu yang memanjang dari samping kiri ke samping kanan dengan dua cucuran atap. Kedua cucuran atap berada pada bagian depan dan belakang rumah, sedangkan perabungannya berada di bagian atas ruang tengah. Di bawah rumah bagian depan terdapat balai tempat duduk-duduk, sedangkan pada salah satu sudut rumah terdapat lumbung padi, dan tempat menumbuk padi.

Rumoh Aceh adalah rumah yang didirikan di atas tiang-tiang sehingga bentuk rumoh Aceh dapat dilihat dari bagian bawah, bagian atas, dan bagian atap atau bagian kap. Bagian bawah berbentuk kolong rumah yang berada di bawah lantai. Kolong rumah itu berada dalam keadaan terbuka karena tidak diberi dinding, Para wanita juga menempatkan alat tenun di kolong rumah dan juga melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga di sana; inilah sebabnya, maka sebagian kolong rumah terkadang dipisahkan dari bagian yang lain dengan sejenis penyekat (pupalang). Apabila sedang pesta, sebagian dari para tamu undangan dapat juga diberi tempat duduk di sini sebagaimana para pria pelayat yang datang menyatakan ikut berduka cita pada waktu ada yang meninggal dunia, dipersilahkan duduk juga di kolong rumah. (Hurgronje 1985:43). Pada bagian depan kolong itu kadang-kadang terdapat balai (bale) tempat duduk-duduk, sedangkan pada bagian belakang terdapat kandang ayam atau itik. Namun, sekarang kandang ayam itu jarang ditempatkan pada kolong rumah. Tinggi lantai dari rumah lebih kurang 2,3 meter bagi lantai ruang depan dan ruang belakang, dan 2,8 meter bagi lantai ruang tengah. Tinggi kolom rumah yang berada di bawah ruang depan dan ruang belakang adalah 2,3 meter, sedangkan tinggi kolong yang berada di bawah ruang tengah adalah 2,8 meter. (Hadjad et al., 1984:27)

Pada kolong didapati deretan tiang-tiang rumah. Deretan tiang terdiri atas empat deretan, yaitu deretan depan, deretan tengah depan, deretan tengah belakang dan deretan belakang. Pada masing-masing deretan itu terdapat enam buah tiang. Tiang-tiang itu berderet menurut arah timur-barat. Jarak antara tiang dengan tiang dalam satu deretan lebih kurang dua setengah meter. Demikian juga jarak antara satu deretan tiang dengan deretan tiang yang lainnya, Hal ini erat hubungannya dengan masalah keamanan, yaitu keamanan dari gangguan-gangguan binatang buas dan keamanan dari pencurian-pencurian.

Sejarah Rumah Teuku Sabi Silang

Teuku Sabi Silang adalah salah seorang Ulee Balang (Pemimpin) di daerah Blang Krueng, Para ulèëbalang, sebagaimana berulang-ulang tegaskan adalah yang dipertuan di negeri masing-masing, dan merupakan kepala wilayah par excellence. Maka, mereka disebut raja (dalam bahasa Aceh bermakna Kepala) dari wilayah masing-masing, baik secara nyata maupun kiasan. Sebutan ke ulèëbalangan telah diciptakan oleh orang Belanda, dan orang Aceh menyebutnya nanggròë (negeri) uleebalang Anu’ atau sekian MukimBeliau memerintah mulai tahun 1311 Hijriah pada masa Kesultanan terakhir di Kerajaan Aceh (Sultan Mohd. Daudsyah). Pada saat itu merupakan masa puncak-puncaknya peperangan dengan Belanda. Nenek moyang dari Teuku Sabi Silang ini berasal dari Persia, yaitu Sjech Nurdin yang datang ke Aceh pada tahun 920 Hijriah bersama dengan bala tentaranya.

Rumah Teuku Sabi Silang terletak di desa Blang Krueng, Kemukiman Cadek Silang, kecamatan Baitussalam Aceh Besar, tidak jauh dari kampus IAIN Ar Raniry dan Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam. Di antara para pejabat gampōng dengan ulèëbalang atau penguasa wilayah terdapat para imeum (imam), yang mengepalai daerah mukim. Mukim pada awalnya adalah himpunan beberapa desa untuk mendukung sebuah masjid yang dipimpin oleh seorang Imam (Reid 2005:3). Mukim ialah sutu istilah Arab, yang makna sebenarnya ialah penduduk suatu tempat. Hukum Islam menurut mazhab Syafi’i yang unggul di tanah Aceh, menentukan bahwa untuk menegakkan jemaat hari Jum’at mutlak diperlukan kehadiran paling sedikit 40 orang mukim yang termasuk golongan penduduk bebas (bukan budak belian) yang telah dewasa

Rumah Teuku Sabi Silang bentuknya seperti rumah tradisional Aceh yang memiliki tiang dan kolong rumah yang tinggi yang ruangannya terdiri dari serambi depan, ruang tengah dan serambi belakang dengan memakai atap pelana yang memanjang antara Timur dan Barat Rumah ini memiliki pintu masuk pada bagian depan yang mengarah ke Selatan. Letak rumah Aceh biasanya menghadap utara atau ke selatan, sehingga membujur dari timur ke barat. Hal ini merupakan suatu kebiasaan. Kebiasaan tersebut ditinjau dari segi agama Islam adalah untuk memudahkan pengenalan kiblat yang di Indonesia arah kiblatnya berada di sebelah barat. Di samping itu, hal ini erat hubungannya dengan masalah arah bertiupnya angin di daerah Aceh. Angin di daerah Aceh biasanya bertiup dari arah timur ke barat atau sebaliknya.

Sewaktu dibangun, dapur untuk rumah ini yang berbentuk panggung terletak dibagian belakang dari rumah. Mengapa dapur rumah Aceh terdapat dalam rumah? Ini pun mengandung maksud. Seperti yang telah diketahui dahulu belum dikenal adanya sistem penerangan seperti sekarang (adanya lampu dinding, lilin, lampu petromak atau strongking, listrik), maka nyala api ketika memasak di dapur dapat berfungsi sebagai penerangan pada malam hari. Inilah sebabnya, maka dapur terdapat di dalam ruangan rumah, kemudian karena ada dua kepala keluarga yang tinggal dirumah ini, maka dibangun satu dapur lagi pada sisi samping sebelah timur. Setelah kepala keluarga yang satu tidak tinggal lagi dirumah tersebut maka dapur yang terletak pada bagian belakang rumah itu dibongkar, tinggallah satu dapur saja di sisi timur samping rumah. Pada kolong rumah berfungsi untuk kegiatan sehari-hari yang tidak resmi.

Ada bale (bangku) untuk duduk-duduk dengan tetangga, keluarga dan juga kegiatan menumbuk padi, tepung dan lain sebagainya. Pada bagian depan pintu masuk terdapat tangga ditutupi dengan teras berpanggung, di samping teras tersebut terdapat sebuah bak besar untuk menampung air. Setiap orang yang akan naik kerumah mencuci terlebih dahulu kakinya. Rumah bagi orang Aceh adalah tempat yang suci dan bersih. Ketika berada dalam rumah kita akan melihat dari dekat banyaknya ornamen dan ukiran yang menghiasi rumah ini. Dari penyelesaian arsitekturnya menunjukkan bahwa pemilik rumah ini adalah orang yang berada dan berpengaruh serta memiliki kekuasaan. Masih tersisa juga perabot-perabot tua dan hiasan dinding yang berasal dari negeri China, Arab, Belanda yang merupakan hadiah dari tamu bagi pemilik rumah ini.

Sejak didirikan oleh Teuku Sabi Silang rumah ini tetap berdiri dan dihuni oleh keturunannya. Kondisi Bangunannya telah dimakan usia dan rayap serta kurang terawat, rumah ini terbuat dari kayu dan tidak dicat sejak awal didirikan hingga kini. Keluarga besar Teuku Sabi Silang ini sebagian masih tinggal dilahan sekeliling rumah ini. Mereka membuat rumah panggung dan diatas tanah. Di sekitar kampung Blang Krueng tidak ada rumah seperti rumah Teuku Sabi Silang ini. Pada tanggal 26 Desember 2004 Aceh di landa musibah gempa dan gelombang tsunami. Desa Blang Krueng yang letaknnya sekitar 4 km dari laut Samudera India juga tak luput dari hantaman tsunami. Ketinggian air di bawah kolong rumah Teuku Sabi Silang ini lebih kurang 2 m. Banyak bangunan di sekitarnya yang hancur. Rumah Teuku Sabi Silang ini menjadi tempat alternatif bagi warga di kampung tersebut dan dari kampung tetangganya desa Lam Ateuk sebagai tempat menyelamatkan diri. Sekitar 300 jiwa yang naik ke rumah ini selamat dari bencana, sebagian besar dari mereka adalah ibu-ibu dan anak-anak. Sementara pemilik rumah (Cut Meurah Intan) dan anaknya Cut Idawati yang turun dari rumah ketika gempa kini telah tiada dan tidak diketemukan mayatnya. Kondisi rumah Teuku Sabi Silang ini kini telah banyak bagian yang rusak dan hilang, dan yang tinggal terakhir di rumah ini adalah Cut Meurah Intan dan anaknya Cut Idawati. Cut Meurah intan adalah istri dari T.M. Daud. T.M. Daud adalah salah seorang anak dari Teuku Sabi Silang. Cucu dari Cut Meurah Intan yang bernama T.Muslian sebelum tsunami tinggal di rumah ini bersama neneknya. Dia selamat dari bencana. Setelah tsunami rumah ini tidak ditempati lagi. Dapur dari rumah yang letaknya terpisah dari rumah utama (rumah Aceh) dan berbentuk panggung yang berada pada sisi sebelah Timur telah tiada hilang dibawa tsunami begitu juga dengan orang-orang yang berada di dalamnya ketika tsunami datang, tidak ada yang selamat. Rumah Teuku Sabi Silang sebagaimana rumah Aceh lainnya tebuat dari kayu. Dengan usianya yang sudah tua (sekitar 200 tahun), ada bagian dari rumah ini yang di makan rayap dan lapuk. Salah satu tiangnya dibawa tsunami dan ada yang patah. Tiang lainnya ada yang bergeser. Dinding dan lantainya ada juga yang sudah lubang. (lihat tabel kerusakan Bangunan). Teras yang terletak dibagian selatan dan melindungi tangga untuk pintu masuk kerumah juga rusak. Rumah Teuku Sabi Silang yang beratapkan seng ini, kini kondisinya semakin parah. Lantai pada bagian serambi belakang telah lepas, karena tiang penyangga yang patah ketika gempa dan tsunami tidak ada yang memperbaiki, sedangkan tiang disebelahnya telah hilang dibawa tsunami. Kini rumah Teuku Sabi Silang merupakan salah satu warisan budaya yang masih bisa dilihat dan dijadikan acuan untuk mempelajari bagaimana arsitektur rumah aceh yang pernah dibangun oleh bangsanya sendiri. Bagaimana nasib rumah ini kedepan sangat tergantung sikap yang diambil saat ini.

Tipologi Bangunan Rumah Teuku Sabi Silang

Bagian atas merupakan bagian ruangan rumah. Keseluruhan ruangan rumah Teuku Sabi Silang berbentuk ruangan empat persegi panjang yang dibagi atas tiga ruangan yang lebih kecil, yaitu (1) ruang depan (serambi depan), yang disebut seuramoe keue atau seuramoe reunyeuen (serambi bagian tangga), (2) ruang tengah yang disebut tungai dan (3) ruang belakang yang disebut seuramoe likot. Letak ruang tungai lebih tinggi setengah meter daripada ruang depan dan ruang belakang. Serambi depan dan serambi belakang sama tingginya. Oleh karena itu, lantai ketiga ruangan tidak bersatu. Jadi masing-masing ruangan mempunyai lantai yang terpisah-pisah.

Pada sekeliling ruangan itu terdapat dinding rumah. Pintu masuk utama ke rumah terdapat pada bagian tengah dinding depan. Letak pintu dapur terdapat pada ujung sebelah kiri ruangan bagian belakang. Tepatnya pada dinding sebelah kiri. Atap rumah adalah atap yang berabung satu. Rabung itu memanjang dari samping kiri ke samping kanan, sedangkan cucuran atapnya berada dibagian depan dan belakang rumah. Rabung rumah yang disebut tampong berada dibagian atas ruangan tengah. Atap rumah adalah dari bahan seng. Pada dinding sebelah depan yang menghadap ke halaman rumah terdapat pintu masuk yang disebut pinto rumoh, yang berukuran lebih kurang lebar 0,8 meter, dan tingginya 1 meter. Pada dinding sebelah samping kanan dan kiri terdapat jendela yang berukuran lebih kurang lebar 0,6 meter dan tingginya 1 meter yang disebut tingkap. Kadang-kadang jendela terdapat juga pada dinding sisi depan. Jendela rumah yang disebut tingkap terdapat pada dinding sebelah kiri, kanan, depan dan belakang setiap ruangan, kecuali pada sisi dinding pada pintu yang ke dapur. Pada dinding yang ujung sebelah barat dari ruangan belakang itu terdapat sebuah jendela yang besarnya sama dengan jendela yang terdapat pada serambi depan, sedangkan pada ujung sebelah timur tidak terdapat jendela karena di tempat itu ada dapur.

Di atas dinding depan bagian luar terdapat rak tempat meletakkan barang-barang kecil yang disebut sandeng. Untuk tempat duduk pada umumnya menggunakan tikar yang dihampar sepanjang serambi depan tersebut. Jadi, serambi depan ini sifatnya terbuka. Kalau serambi depan sifatnya terbuka, maka ruangan tengah sifatnya tertutup, karena di ruangan tengah ini terdapat tiga buah bilik (kamar) tempat tidur. Ketiga kamar tersebut masing-masing terletak di ujung sebelah kiri satu kamar dan diujung sebelah kanan dua ruangan tengah tersebut. Letak kedua kamar itu didasarkan pada kebiasaan letak rumah, yaitu menghadap ke Utara atau ke Selatan, maka ketiga kamar itu masing-masing terletak di sebelah Timur dan di sebelah Barat, sedangkan di tengah-tengah ruangan tersebut gang yang menghubungkan serambi depan dengan serambi belakang yang disebut rambat. Ketiga kamar tersebut masing-masing diberi nama rumoh inong dan anjong. Rumoh inong adalah kamar yang berada di sebelah barat, sedangkan anjong adalah dua kamar yang berada di sebelah Timur. Pada setiap kamar masing-masing terdapat sebuah jendela, hanya pada kamar bagian tengah tidak terdapat jendela. Jendela untuk anjong terdapat pada dinding kamar sebelah Timur, sedangkan rumoh inong terdapat pada dinding kamar sebelah Barat. Pintu rumoh inong menghadap ke rambat, sedangkan pintu anjong satu menghadap ke rambat dan satunya menghadap ke serambi belakang. Di dalam kamar terdapat para yang berfungsi sebagai loteng dan juga berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan barang-barang yang jarang digunakan atau senjata-senjata tajam seperti tombak, pedang, kelewang, dan lain-lain. Pada serambi belakang bagian barat di sebelah rumoh inong terdapat satu buah kamar tidur, sedangkan bagian lainnya polos seperti serambi depan. Pada ruangan ini terdapat pintu yang menuju ke dapur, dan kondisi saat ini dapur sudah tidak ada lagi dibawa tsunami. Rumoh dapu itu didirikan di samping rumah bagian belakang dan berdempetan dengan berhubungan dengan ruang serambi belakang. Letak ruangan dapur tersebut lebih rendah dari serambi belakang, dan berada di atas tanah. Antara ruangan belakang dengan ruangan dapur dihubungkan oleh sebuah tungai. Ruangan lain yang juga kita dapati di bagian depan luar rumah adalah ruangan balai yang disebut bale. Bale ini merupakan ruangan terbuka sebagai tempat duduk-duduk bersantai. Tinggi ruangan itu kira-kira satu meter dari tanah

Fungsi Ruang-Ruang Dalam Rumah Teuku Sabi Silang

Ruangan depan adalah ruangan yang serba guna sesuai dengan keadaannya yang terbuka karena tidak berbilik-bilik. Fungsi ruangan depan antara lain sebagai tempat menerima tamu, tempat duduk untuk makan ketika ada acara-acara kenduri dan perkawinan, tempat anak-anak belajar dan mengaji, tempat sembahyang dan tempat tidur-tiduran. Selain itu, ruangan depan ini dipergunakan sebagai tempat tidur bagi anak-anak, terutama anak laki-laki. Bagi rumah yang menggunakan tradisi menggunakan kursi tempat duduk, maka kursi tersebut ditempatkan di ruangan ini. Ruangan ini dipergunakan juga sebagai tempat menyimpan padi jika padi tersebut tidak muat lagi di dalam lumbung. Ruangan tengah sebagaimana yang telah dikemukakan pada bagian terdahulu adalah ruangan yang terdiri atas tiga buah bilik (kamar), masing-masing terdapat di sebelah Timur dan di sebelah Barat, dan sebuah gang. Oleh karena itu, fungsi utama ruangan tengah ini adalah sebagai ruangan tempat tidur, sedangkan gang yang terdapat di tengah-tengah berfungsi sebagai tempat lalau lintas antara ruangan (serambi) depan dengan ruangan (serambi) belakang. Kamar sebelah Barat yang disebut rumoh inong biasanya ditempati oleh kepala keluarga, sedangkan kamar sebelah Timur yang disebut rumoh anjong ditempati oleh anak-anak perempuan. Jika ada anak perempuan yang sudah dikawinkan, rumah inong ditempati oleh anak perempuan tersebut, sedangkan kepala keluarga pindah ke rumoh anjong. Anak-anak yang semula menempati rumoh anjong pindah ke ruangan (serambi) belakang di ujung sebelah Barat. Selanjutnya bila ada dua anak perempuan yang sudah dikawinkan, sedangkan kepala keluarga tersebut belum mampu mendirikan rumah yang lain, maka kamar sebelah Barat diserahkan untuk anak perempuan yang tertua dan kamar sebelah Timur diserahkan untuk anak perempuan yang muda. Dalam keadaan seperti ini kepala keluarga terpaksa menyingkir ke serambi belakang bagian Barat. Sebagaian ruangan belakang dipergunakan sebagai ruangan dapur, dan ruangan tempat makan. Dapur biasanya terletak sebelah timur. Jika ruangan belakang ini menggunakan anjong atau ulee kuede, maka dapur diletakkan di anjong. Bagian Barat dari ruangan belakang ini dipergunakan sebagai tempat duduk dan tempat sembahyang. Kadang-kadang dipergunakan juga untuk tempat tidur bagi keluarga yang banyak anggota keluarga.

Ragam Hias Rumah Teuku Sabi Silang

Pada bangunan rumah Teuku Sabi Silang banyak dijumpai ukir-ukiran, karena suku bangsa Aceh pada hakekatnya termasuk suku bangsa yang berjiwa seni. Ukir-ukiran yang terdapat pada bangunan tradisional seperti tersebut di atas mempunyai berbagai motif atau ragam hias. Motif-motif tersebut adalah motif yang berhubungan dengan lingkungan alam seperti, flora, fauna, dan awan. Fungsi utama dari berbagai jenis motif dan ragam hias itu adalah sebagai hiasan semata-mata, sehingga dari ukiran tersebut tidak mengandung arti dan maksud-maksud tertentu, kecuali motif bintang dan bulan, yang menunjukkan simbol ke-Islaman, motif awan berarak (awan meucanek) yang menunjukkan lambang kesuburan, dan motif tali berpintal (taloe meuputa) yang menunjukkan ikatan persaudaraan yang kuat bagi masyarakat suku bangsa Aceh.

Ragam hias yang bermotif flora (tumbuh-tumbuhan) adalah ragam hias yang bermotif bunga-bunga seperti bungong meulu (bunga melur), bungong jeumpa (sejenis bunga cempaka), bungong mata uroe, yang kadang-kadang dilengkapi juga dengan daun-daunnya. Hiasan-hiasan bunga itu bukanlah merupakan yang berdiri sendiri, tetapi setiap ukiran bunga tersebut dipadukan dalam satu ikatan ukiran yang berbentuk taloe meuputa (pintalan tali). Taloe meuputa itulah yang dijadikan sebagai batang dan tangkai untuk setiap ukiran yang bermotif bunga tersebut. Setiap ukiran yang bermotif bunga-bungan beserta dengan daun-daunnya itu tidak diberi corak warna tersendiri, karena pada umumnya ragam hias bangunan tradisional suku bangsa Aceh tidak diberi warna. Jika ada yang berwarna, itu merupakan akibat pengaruh masa kini. Warna hiasan itu pada umumnya disesuaikan dengan warna dasar dari pada keseluruhan warna zat bangunan tersebut. Ragam hias yang bermotif bunga-bunga yang ditempatkan pada bangunan rumah Teuku Sabi Silang terutama terdapat pada binteh (dinding), tulak angen (penahan angin), kindang (landasan dinding), indreng (balok pada bagian kap), dan tingkap (jendela), Hiasan-hiasan (ukiran-ukiran) yang terdapat pada bangunan tradisional suku bangsa Aceh pada umumnya tidak mempunyai arti dan maksud-maksud tertentu. Demikian pula halnya dengan hiasan yang bermotif bunga-bunga ini, semata-mata hanya berfungsi sebagai keindahan saja. Seperti telah dikemukakan di atas bahwa hiasan-hiasan (ukir-ukiran) yang terdapat pada umumnya tidak mempunyai arti dan maksud-maksud tertentu. Demikian pula halnya dengan hiasan yang bermotif bunga-bunga, semata-mata hanya berfungsi sebagai keindahan saja.

Jadi semula tidak diberi warna dan dalam perkembangan akhir-akhir ini warnanya disesuaikan dengan warna dasar keseluruhan warna cat bangunan itu. Seperti telah dikemukakan di atas, maka hiasan yang bermotif burung, ayam dan itik pada umunya untuk dinding-dinding berlobang seperti tulak angen yang ditempatkan pada kedua ujung kap bagian atas yang berbentuk segitiga. Selain itu ditempatkan pada dinding bagian atas yang berfungsi sebagai lobang angin. Ragam hias alam, adalah ragam hias yang disebut canek awan (awan berarak). Disebut canek awan karena berbentuk awan berarak. Penempatan ukiran yang bermotif canek awan ini biasanya ditempatkan pada reunyeun (tangga), pada kindang (landasan dinding) dan kadang-kadang pada peulangan bagian dalam, yaitu balok besar yang dipasang pada ujung balok toi ruang tengah.

Sistem dan Struktur Bangunan

Pada kolong bangunan terdapat tiang-tiang rumah (tameh rumoh). Bentuk tiang itu bundar dan dibuat dari batang kayu yang kuat. Jumlah tiang tergantung kepada besar kecilnya rumah. Rumah yang besar yang disebut rumoh limong reweueng (rumah lima ruang) mempunyai 24 buah tiang. Tiang-tiang itu tidak ditanam dalam tanah, tetapi didirikan di atas pondasi (landasan tiang) dari batu sungai yang disebut gaki tameh. Gaki tameh ini pun tidak ditanam dalam tanah, tetapi diletakkan di atas pondasi persegi yang dicor dari campuran semen yang tingginya 20 cm.

Tiang-tiang itu didirikan dalam empat deretan, yaitu pada deretan depan, tengah depan, tenagh belakang dan pada deretan belakang, sehingga pada masing-masing deretan terdapat enam buah tiang. Tinggi tiang pada deretan depan dan belakang kira-kira empat meter dan pada deretan tengah depan dan tengah belakang kira-kira lima setengah meter. Jarak antara tiang dengan tiang yang lain kira-kira dua setengah meter. Pada bagian tengah masing-masing tiang dibuat dua buah lobang dan pada bagian ujungnya dibuat sebuah puting (puteng tameh). Tiang-tiang itu dihubungakan antara satu dengan yang lain oleh kayu-kayu balok yang dimasukkan ke dalam lobang-lobang tiang-tiang tersebut. Kayu balok yang menghubungkan tiang dengan tiang-tiang dalam satu deretan disebut rok, sedangkan kayu balok yang menghubungkan satu deretan tiang dengan deretan tiang deretan tiang yang lain disebut toi. Dengan dipasangnya rok dan toi itu, maka tiang-tiang yang didirikan di atas tanah yang beralaskan batu dapat berdiri dengan kokoh, karena sudah saling berhubungan. Untuk lebih mengokohkan bangunan itu, maka selain dipasang rok dan toi dipasang pula dua buah balok besar yang disebut peulangan. Peulangan itu masing-masing dipasang pada ujung balok toi ruangan tengah (tungai). Selain itu, untuk menguatkan pemasangan rok atau toi pada lobang-lobang tiang, maka pada setiap lobang tiang dipasang pula pasak yang disebut bajoe. Dengan berdirinya tiang-tiang itu, maka terbentuklah bangunan rumah bagian bawah.

Bagian atas rumah Teuku Sabi Silang adalah bagian ruangan rumah yang terdiri atas ruangan serambi depan (seuramoe reunyeuen atau seuramoe keue), ruangan tengah (tungai) dan ruangan serambi belakang (seuramoe likot). Ruangan tengah lebih tinggi sedikit kira-kira setengah meter daripada ruangan depan dan belakang. Pada masing-masing ruangan diberi lantai dan dinding. Pemasangan lantai yang disebut aleue dilakukan dengan cara terlebih dahulu dipasang beberapa balok (kira-kira sembilan buah) di atas balok-balok toi pada setiap ruangan yang disebut lhue. Demikian pula untuk lhue dahulu kebanyakan terbuat dari batang bamboo, sedangkan sekarang kebanyakan terbuat dari balok kayu. Bagi rumah yang memakai lantai papan, maka cara pemasangannya dengan cara memaku lantai papan itu pada balok lhue.

Pemasangan dinding yang disebut binteh dilakukan berdasarkan jenis dinding yang dipakai. Bagi rumah yang memakai dinding papan pemasangannya dilakukan dengan cara memaku dinding itu pada tiang-tiang rumah. Untuk dinding di samping kiri dan samping kanan pemakuannya dilakukan juga pada rang, yaui tiang kecil yang dipasang di antara tiang-tiang rumah. Rang itu bertumpu pada balok toi yang terdapat pada tiang-tiang samping. Pemasangan dinding rumah Teuku Sabi Silang selain dipaku atau diikat pada tiang-tiang juga diletakkan di atas balok-balok yang dipasang pada ujung toi atau ujung lhue yang disebut kindang. Kindang itulah tempat tumpuan dinding rumah, sehingga pemasangan dinding-dinding itu lebih kuat. Sebenarnya di bagian atas kindang dipasang lagi papan kecil yang disebut boh pisang. Dinding rumah tidak hanya memakai dinding luar saja, tetapi juga memakai dinding dalam, yaitu dinding pada ruangan tengah (tungai). Dinding itu merupakan dinding-dinding besar yang terdapat pada ruangan tengah. Dinding dalam itu bertumpu pada peulangan.

Konstruksi kap rumah pada bagian depan dan belakang bertumpu pada balok yang dipasang pada ujung tiang deretan depan dan belakang yang disebut bara. Konstruksi kap bagian tengah yang berada di atas ruangan tengah bertumpu pada balok yang dipasang pada puting tiang deretan tengah depan dan tengah belakang yang disebut bara panyang yang letaknya sejajar dengan bara. Selain bertumpu pada bara panyang konstruksi kap juga bertumpu pada bara linteueng (bara yang melintang), yaitu balok yang menghubungkan puting tiang deretan tengah belakang. Di tengah-tengah setiap bara linteueng didirikan balok tinggi lebih kurang satu meter yang disebut diri (deuri). Ujung atas diri ini dihubungkan antara satu dengan yang lain oleh sebuah balok yang disebut tuleueng rueng. Tuleueng rueng inilah yang merupakan bagian puncak dari konstruksi kap. Pada kedua ujung bara linteueng itu dipasang pula sebuah balok dalam posisi miring yang disebut indreng yang letaknya sejajar dengan bara panyang. Pada masing-masing indreng dipasang pula sebuah balok yang dalam posisi agak miring yang disebut ceureumen. Letak ceureumen itu sejajar dengan bara linteueng. Ceureumen itu terdapat pada kedua ujung indreng. Pada bagaian tengah masing-masing ceureumen didirikan sebuah diri lagi, sehingga diri inilah yang menjadi penunjang tuleueng rueng pada kedua ujung hubungan rumah.

Setelah terdapatnya bara, bara linteueng, bara panyang, indreng, ceureumen, diri dan tuleueng rueng, maka sebagian besar konstruksi sudah terpasang, yang tinggal hanyalah kasau, tumpuan kasau, kasau pendek, kayu-kayu kecil tempat pengikat atap. Kasau rumah yang disebut gaseue dibuat dari pohon-pohon kayu yang agak kecil sebesar batang bambu. Kasau itu dipasang di atas bara dan indreng, sedangkan pada bagian pangkal kasau bertumpu pada sebuah balok yang disebut neuduek gaseue dan bagian ujungnya bersandar pada teleueng rueng. Pada bagian pangkal kasau akan merupakan bagian cucuran atap dan pada bagian ujung kasau akan merupakan bubungan atap (puncak atap). Pada neuduek gaseue dipasang beberapa potong kayu penahan yang disebut bui teungeuet. Pada bagian ujung bui teungeuet diikat dengan tali kawat yang disebut taloe bawai. Lalu taloe bawai ini disangkutkan pada setiap puting tiang deretan depan dan belakang. Sebenarnya taloe bawai inilah yang merupakan penahan utama dari keseluruhan kap rumah yang berbentuk kerucut.

Untuk pemasangan atap yang terbuat dari daun rumbia (daun sagu) diperlukan bilahan batang pinang sebagai tempat pengikat atap rumah yang disebut beuleubah. Beuleubah itu dipasang di antara kasau-kasau. Pada bagian pangkal, beuleubah itu bertumpu pada sepotong kayu panjang yang disebut neuduek beuleubah. Pada beuleubah itulah atap rumah diikat dengan tali rotan. Pada ujung kiri dan kanan atap dipasang selembar papan yang agak kecil, sejenis les palang yang disebut seupi. Untuk pemasangan kap dan atap tidak dipergunakan paku. Pengganti paku dipergunakan tali ijuk atau tali rotan untuk pengikatnya. Penggunakan paku untuk rumah hanya terbatas untuk pemasangan dinding dan lantai, itu pun kalau rumah itu berdinding papan dan berlantai papan.

Kondisi Umum Bangunan Setelah Gempa dan Tsunami Dari hasil observasi kerusakan bangunan rumah Teuku Sabi Silang dapat diklasifikasikan sebagai berikut, yaitu rusak akibat gempa, rusak akibat gelombang tsunami, dan rusak akibat dimakan rayap. Akibat gempa, dapat dilihat pada bangunan yang terdapat di tangga pintu masuk kondisinya sudah rusak dan sebagian roboh atapnya. Dapur yang terdapat menempel di bagian belakang bangunan hilang terbawa oleh gelombang tsunami. Daun jendela yang terdapat pada bagian sisi belakang bangunan lepas dari dinding bangunannya. Di samping itu, ada satu tiang yang posisi letaknya sudah bergeser sekitar satu meter dari pondasinya, dan beberapa tiang juga bergeser sekitar 10 cm dari pondasinya, kemudian terdapat satu tiang yang hilang terbawa oleh arus gelombang tsunami. Hal ini berakibat pada lantai papan yang ditopang oleh struktur tiang tersebut menjadi patah, demikian juga pada balok melintang yang menghubungkan kedua tiang rusak dan patah, sehingga balok-balok lantai yang menahan lantai papan di atasnya juga mengalami kerusakan. Kemudian terdapat empat tiang pada bagian bawah yang ditopang pondasi sudah rusak akibat dimakan rayap. Juga terdapat satu tiang di ruang tengah yang bagian ujungnya lepas dari balok melintangnya. Pada ornamen yang terdapat pada dinding depan rumah, dinding bagian dalam rumah, beberapa bagian dimakan rayap dan lepas dan sebagian besar masih bagus kondisinya. Pada ornamen bagian samping kiri dan kanan rumah sebagian ada yang lepas dan ada juga yang dimakan rayap, sedangkan untuk ornament pada dinding bagian belakang sudah banyak yang lepas dan dimakan rayap. Ornamen-ornamen tersebut mempunyai fungsi sebagai ventilasi udara. Pada beberapa ornamen yang menempel pada balok melintang pada bagian luar bangunan masih bagus kondisinya, sedangkan untuk ornament yang menempel pada balok melintang samping belakang bagian luar kelihatan retak-retak. Untuk balok lantai ada sebagian yang rusak akibat dimakan rayap, dan sebagian patah akibat gempa, sedangkan lantai papan banyak yang dimakan rayap, hilang, dan sebagian masih dapat dimanfaatkan karena kondisinya masih baik. Keseluruhan rangka atap kondisinya masih baik, sehingga masih dapat digunakan lagi hanya penutup atap yang terbuat dari seng bisa diganti dengan penutup atap dari rumbia.

Beberapa Teknik Tradisionil Dalam Bangunan

1. Penempatan tiang-tiang yang diletakkan di atas pondasi, dan masing-masing tiang tidak dihubungkan dengan balok penghubung. Hal ini merupakan ciri khas dari bangunan tahan gempa.

2. Tiang-tiang yang terdapat di bagian samping kanan dan kiri bangunan pada bagian atasnya tidak menopang beban. Pada bagian atas dari tiang dibuat menonjol dan lebih kecil ukurannya, kemudian balok-balok yang menghubungkan antar tiang diberi lobang sebesar ukuran yang menonjol tersebut kemudian diletakkan di atas tiang.

3. Penempatan skor pada kuda-kuda yang dihubungkan dengan balok melintang yang ada di bawahnya tidak menggunakan baut atau paku. Pada bagian bawah dari skoor tersebut sebagai pengikat hanya diberi dua buah pasak, sehingga kalau menerima beban atau gerakan dari atas akan melentur tidak merusak struktur kuda-kuda atau atap secara keseluruhan.

4. Pertemuan balok melintang yang menopang pada ruang-ruang utama dengan balok memanjang, yaitu dengan memberi lobang pada balok memanjang yang fungsinya untuk memasukkan sebagian dari balok melintang agar sebagian dari balok melintang tersebut dapat dimasukkan, sehinga bila terjadi gerakan tidak merusak struktur bangunan.


sumber

[1] Alfian, T. I. 2005. Wajah Aceh Dalam Lintasan Sejarah, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

[2] Hadjad, A., Zaini, A., Mursalan, A., Kasim, S. M., & Razali, U. 1884. Arsitektur Tradisional Propinsi Daerah Istimewa Aceh, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Proyek Inventarisasi Dokumentasi Kebudayaan Daerah 1981/1982

[3] Hurgronje, S. 1985. Aceh Di Mata Kolonialis, Jilid I, Jakarta: Yayasan Soko Guru.

[4] Hurgronje, S. 1985. Aceh Di Mata Kolonialis, Jilid II, Jakarta: Yayasan Soko Guru.

[5] Reid, A. 2005. Asal Mula Konflik Aceh Dari Perebutan Pantai Timur Sumatera hingga Akhir Kerajaan Aceh Abad ke-19, Jakarta:Yayasan Obor Indonesia

Navigasi
Kategori Utama
AcehPedia
Komunitas Lokal
Kotak peralatan
Share Tools